Posted in Bebas, Tips

Tips Mengetahui Kalkulator Asli atau Palsu

image

Bismillah

Anda pasti sudah mengetahui apa itu Kalkulator. Yup, benda yang satu ini sangat membantu dalam kehidupan manusia terutama dalam hal hitung menghitung.

Ternyata Kalkulator itu ada yang
Asli dan ada yang Palsu. Sebenarnya bukan masalah suku cadangnya yang Asli atau Palsu, tapi lebih bisa dikatakan Pintar atau Tidak Pintar dalam hal pembulatan angka dibelakang koma. Caranya sebagai berikut :

Siapkan Kalkulator Anda, boleh juga Kalkulator yang terdapat di Komputer/Laptop dan Kalkulator yang ada di Ponsel. Selanjutnya tekan 2 : 3 x 3

Jika Hasilnya yang tertera adalah 1,99999999998 atau
2,00000000001 berarti Kalkulator Anda miliki Palsu/Tidak Pintar.

Tapi kalau hasilnya 2 berarti Kalkulator yang Anda miliki Asli/Pintar.

Penulis pun mencari sumbernya dari Ensiklopedi Matematika.

Penjelasan :

Sekolah-sekolah di Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dahulu menggunakan cara berhitung yang dikenal dengan rumus MVDWOA (Machtsverheffing, Vermanigvuldiging, Delling, Worteltrekking, Optelling, Aftrekking) yang artinya Pangkat, Kali, Bagi, Akar, Tambah, Kurang.

Berhubung pada waktu itu di Sekolah Rakyat (sekarang SD) tidak diajarkan Pangkat dan Akar, maka rumus tersebut khususnya di Jawa terkenal dengan nama PIPA LONDO (Ping, Para, Lan, Suda) yang artinya Perkalian, Pembagian, Penjumlahan dan Pengurangan.

Setelah Perang Dunia ke II, rumus MVDVOA sudah tidak dipakai lagi di negara asalnya yakni Belanda, sedangkan di Indonesia, dinyatakan tidak boleh dipakai sejak dikeluarkannya Instruksi Kepala Jawatan Pendidikan Umum Departemen P & K, tanggal 2 April 1960.

Sejak saat itu pengerjaan berhitung menggunakan prinsip-prinsip dan ketentuan sebagai berikut :

1. Pembagian adalah kebalikan dari Perkalian. Oleh karena itu Pembagian dan Perkalian mempunyai kedudukan dan derajat yang sama.

2. Pengurangan adalah kebalikan dari Penjumlahan, jadi juga mempunyai kedudukan yang sederajat.

Ketentuan ini tidak menjelaskan mana yang lebih penting dan mana yang harus didahulukan. Dalam prakteknya hanya dijelaskan bahwa mengalikan/membagi lebih dulu dikerjakan daripada menjumlah/mengurangkan.

Hal ini dipakai pada sekolah-sekolah di Indonesia sampai dengan tahun 1971.

Jadi menurut ketentuan tersebut, perhitungan » 100 : 2 + 5 x 2 = 50 + 10 = 60

Di beberapa negara Eropa dan Amerika, termasuk Australia berlaku perjanjian sebagai berikut :

1. Bila suatu kalimat hanya memuat Penjumlahan dan Pengurangan saja maka penyelesaiannya dilakukan urut dari kiri ke kanan.

Contoh » 8 + 5 – 3 = 13 – 3 = 10

2. Bila suatu kalimat hanya memuat Perkalian dan Pembagian saja, maka penyelesaiannya dilakukan urut dari kiri ke kanan.

Contoh »100 : 2 : 5 x 3 = 50 : 5 x 3 = 10 x 3 = 30

3. Bila kalimat itu memuat Perkalian/Pembagian dan Penjumlahan/Pengurangan maka penyelesaiannya dilakukan dengan mengerjakan perkalian/pembagian terlebih dahulu daripada Penjumlahan/Pengurangan.

Contoh » 3 x 4 x 5 – 15 : 3 = 60 – 5 = 55

Di Indonesia sejak tahun 1971 sampai sekarang ada perjanjian bahwa apabila tidak ada/memakai tanda kurung maka yang terlebih dahulu harus didahulukan.

Contoh » 3 x 4 x 5 – 15 : 3 = 60 – 15 : 3 = 45 : 3 = 15

Sedangkan jika dikehendaki Perkalian dan Pembagian didahulukan maka kalimatnya harus » (3 x 4 x 5) – ( 15 : 3) = 60 – 5 = 55

Demikian urutan pengerjaan yang benar.

Wallahu a’lam.

(sumber).

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s