Posted in Bank, Finansial, Syari'ah

Mengenal Bank Syari’ah (bagian 1)

image

Bismillah

Tanpa kita sadari, saat ini telah berkembang sebuah trend baru di Indonesia, berasal dari hingar-bingar suasana kota metropolitan hingga keheningan wilayah pedesaan. Trend apakah itu?

Yah itu adalah trend semangat menampilkan nuansa Islami dimana pun, yang hampir semua aktivitas masa kini tidak luput dari nafas Islami. Dari perkara-perkara yang kecil sampai ke perkara yang berlebihan. Semisal Sinetron Islami, Novel Islami, Kredit Islami, Bank Islami, Musik Islami, dan lain-lain yang berlabel ‘Islami’.

Sebelum memulai pembahasan, perlu Anda garis bawahi bahwa tidak semua yang bernuansa Islami itu betul-betul murni ajaran Islam.

Kini istilah ‘ekonomi Islam’ dan ‘Bank syari’ah’, telah menjadi wajah baru yang tampil sebagai pilar penting yang menghiasi ekonomi dunia. Bahkan dianggap sebagai solusi urgen dalam menghadapi krisis keuangan global yang saat ini melanda hampir sebagian besar wilayah di dunia.

Sejarah Bank Syari’ah

Sudah cukup lama dunia Islam, khususnya masyarakat Islam Indonesia, menginginkan sistem perekonomian yang berbasis nilai-nilai dan prinsip syari’ah (Islamic Economic System) dapat diterapkan dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi umat. Hal ini dilatarbelakangi beberapa hal. Di antaranya :

1. Kesadaran untuk menerapkan Islam secara utuh dan total, sebagaimana perintah Allah dalam firman-Nya :

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh.” (Al-Baqarah : 208).

2. Kesadaran bahwa syari’at Islam yang dibawa oleh Nabi dan Rasul terakhir Muhammad bin Abdillah adalah syari’at yang komprehensif, menyeluruh dan merangkum seluruh aspek kehidupan, baik ritual (Ibadah) maupun sosial (Muamalah). Bersamaan dengan itu, syari’at Islam juga universal, dapat diterapkan di setiap waktu dan tempat sampai hari kiamat nanti.

3. Kenyataan bahwa selama ini yang mendominasi sistem perekonomian dunia adalah sistem yang berbasis pada nilai-nilai riba, ditukangi oleh tangan-tangan Yahudi dengan menebarkan wadah dalam bentuk bank-bank konvensional yang merupakan kepanjangan tangan dari riba jahiliyah yang dulu dimusnahkan oleh Rasulullah.

Ironisnya masih banyak kalangan yang berpandangan bahwa Islam tidak berurusan dengan bank dan pasar uang. Mereka beranggapan bahwa Islam hanya menangani masalah-masalah ritual keagamaan saja, dan itu adalah dunia putih. Sementara bank dan pasar uang adalah dunia hitam, yang penuh tipu daya dan kelicikan.

Maka tidaklah mengherankan bila ada sejumlah ‘cendekiawan’ dan ‘ekonom’ melihat Islam, dengan sistem nilai dan tatanan normatifnya, sebagai faktor penghambat pembangunan (an Obstacle to Economic Growth).

Penganut paham Liberalisme*[1] dan Pragmatisme*[2] sempit ini menilai bahwa kegiatan ekonomi dan keuangan akan semakin meningkat dan berkembang bila dibebaskan dari nilai-nilai normatif dan rambu-rambu Ilahi.

Belum lagi ditambah dengan merambahnya kemalasan intelektual yang cenderung pragmatis sehingga memunculkan anggapan bahwa praktek pembungaan uang, seperti yang dilakukan lembaga-lembaga keuangan ciptaan bangsa Yahudi (bank konvensional) sudah ‘sejalan’ dengan ruh dan semangat Islam. Para ‘alim ulama’ dan ‘kaum cendekia’ pun tinggal membubuhkan stempel saja.

Dalam situasi dan kondisi yang tidak menentu seperti di atas, lahirlah sistem perbankan syari’ah. Upaya awal penerapan sistem Profit and Loss Sharing (untung dan rugi ditanggung bersama). Tercatat di Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an, yaitu adanya upaya mengelola dana jamaah haji secara non-konvensional.

Rintisan institusional lain yang cukup signifikan dalam upaya pengembangan bank syari’ah adalah upaya percobaan yang dilakukan Bank IDDI Khor (Rural
Social Bank) yang mendirikan lembaga keuangan bernama Mit Ghamr Bank, yang didirikan di Mesir pada tahun 1963 Masehi. Para pendirinya adalah Prof. Dr. Ahmad Najjar, Isa Abduh, dan Gharib Jamal.

Dalam kurun waktu 4 tahun, uji coba ini ternyata membuahkan hasil yang cukup spektakuler. Mit Ghamr Bank sudah memiliki tujuh cabang di lokasi sekitarnya, melebarkan sayap di 4 tempat, dan mendirikan pusat litbang (Penelitian dan Pengembangan) untuk melayani permintaan di berbagai tempat yang ingin membuka bank serupa. Setelah itu, mereka pun mengepakkan sayap ke dunia internasional khususnya dunia Islam.

Semenjak itu, kajian, diskusi, seminar, dan pertemuan-pertemuan untuk mengembangkan bank syari’ah pun semakin marak sampai pada tingkat sidang menteri luar negeri negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI).

Akhirnya, lahirlah Bank Pembangunan Islam atau Islamic Development Bank (IDB) pada tahun 1975 di Jeddah – Arab Saudi, dengan semua negara-negara anggota OKI sebagai anggotanya.

Di tahun yang sama, muncul Bank Islam Dubai (Dubai Islamic Bank). Pada akhir periode tahun 1970-an serta awal tahun 1980-an, bank-bank syari’ah bermunculan di Mesir, Sudan, negara-negara Teluk, Pakistan, Iran, Malaysia, Banglades, dan Turki.

Wallahu a’lam.

[disadur dari tulisan Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin ~ Majalah Asy Syariah]

Catatan kaki:

[1] Liberalisme atau Liberal adalah sebuah ideologi, pandangan filsafat dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama.

Secara umum, liberalisme mencita-citakan suatu masyarakat yang bebas, dicirikan oleh kebebasan berpikir bagi para individu. Paham liberalisme menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama.

[2] Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.

Author:

di blog ini tempatku berbagi

4 thoughts on “Mengenal Bank Syari’ah (bagian 1)

  1. Assalaamu’alaikum wr.wb…

    Alhamdulillah, di Malaysia sudah banyak perbankan Islam dilaksanakan. Begitu juga bank-bank konvesional yang berfungsi menyokong urusan berunsur syariah bagi menarik minat penyimpan Muslim berurusan dengan bank mereka.

    Satu kemajuan dalam Islam untuk menghidupkan syariat dalam bidang ekonomi agar selamat digunakan oleh umat Islam.

    Artikel yang mencerahkan. Teruskan berkongsi ilmu bermanfaat melalui medan penulisan maya yang luas ini. Semoga diganjari Allah swt.

    Salam sejahtera.šŸ˜€

    1. Wa ‘alaikum salam wr. wb.

      Seperti yang tertulis di Artikel bahwa Pakistan dan Malaysia sekitar tahun 1940-an telah mengelola dana jamaah haji secara non-konvensional.

      Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s