Posted in Bank, Finansial, Syari'ah

Mengenal Bank Syari’ah (bagian 4)

image

Bismillah

Pada artikel bagian ke 4 ini, pembahasan lebih mengarah ke pengenalan Riba secara umum maupun khusus. Karena masalah ini tergolong paling sulit dalam bab jual beli. Juga karena terlalu banyak praktek riba di kalangan kaum muslimin, khususnya di Indonesia ini.

Definisi Riba

Secara bahasa, riba berarti bertambah, tumbuh, tinggi, dan naik. Adapun menurut istilah syariat, para fuqaha sangat beragam dalam mendefinisikannya.

Sementara definisi yang tepat haruslah bersifat jami’ mani’ (mengumpulkan dan mengeluarkan), yaitu mengumpulkan hal-hal yang termasuk di dalamnya dan mengeluarkan hal-hal yang tidak termasuk darinya.

Definisi paling ringkas dan bagus adalah yang diberikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Syarah Bulughul Maram, bahwa makna riba adalah “Penambahan pada dua perkara yang diharamkan dalam syariat adanya tafadhul (penambahan) antara keduanya dengan ganti (bayaran), dan adanya ta’khir (tempo) dalam menerima sesuatu yang disyaratkan qabdh (serah terima di tempat).”

Faedah:

Setiap jual beli yang diharamkan termasuk dalam kategori riba. Dengan cara seperti ini, dapat diuraikan makna hadits berikut :

“Riba itu ada 73 pintu.” (HR. Ibnu Majah, dishahihkan oleh Syaikh Muqbil dalam Shahihul Musnad, 2/42).

Bila setiap sistem jual beli yang terlarang masuk dalam kategori riba, maka akan dengan mudah menghitung hingga bilangan tersebut. Namun bila riba itu hanya ditafsirkan sebagai sistem jual beli yang dinashkan sebagai riba atau karena ada unsur penambahan padanya, maka akan sulit mencapai bilangan di atas. Wallahu a’lam.

Hukum Riba

Riba dengan segala bentuknya adalah haram dan termasuk dosa besar, dengan dasar Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ ulama.

Dalil dari Al-Qur’an di antaranya adalah

1. “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah : 275).

2. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah : 278-279).

Dalil dari As-Sunnah (hadist) di antaranya :

1. “Jauhilah tujuh perkara yang menghancurkan –di antaranya– memakan riba.” (Muttafaqun
‘alaih).

2. “Semoga Allah melaknat pemakan riba.” (HR. Al-Bukhari).

Juga para ulama sepakat bahwa riba adalah haram dan termasuk dosa besar. Keadaannya seperti yang digambarkan oleh Ibnu Taimiyah sebagai berikut : “Tidak ada suatu ancaman hukuman atas dosa besar selain syirik yang disebut dalam Al-Qur’an yang lebih dahsyat daripada riba”.

Kesepakatan ini dinukil oleh Al-Mawardi dan An-Nawawi dalam Al-Majmu’ (9/294, cetakan Dar Ihya’ At-Turats Al-‘Arabi).

Faedah:

Para ulama sepakat bahwa riba adalah haram di negara Islam secara mutlak, antara muslim dengan muslim, muslim dengan kafir dzimmi, muslim dengan kafir harbi maupun sesama orang kafir.

Barang-barang yang Terkena Hukum Riba

Rasulullah bersabda :

“Emas dengan emas, perak dengan perak, burr (suatu jenis gandum) dengan burr, sya’ir (suatu jenis gandum) dengan sya’ir, kurma dengan kurma dan garam dengan garam harus sama (timbangannya), serah terima di tempat (tangan dengan tangan). Barangsiapa menambah atau minta tambah maka dia terjatuh dalam riba, yang mengambil dan yang memberi dalam hal ini adalah sama.” (HR. Muslim).

Para ulama berbeda pendapat, apakah barang yang terkena riba hanya terbatas pada 6 jenis barang di atas, ataukah barang-barang lain bisa di qiyas (menyamakan, membandingkan atau mengukur) kan dengannya?

Pendapat yang rajih –wallahu a’lam– adalah Pendapat Zhahiriyyah, Qatadah, Thawus, ‘Utsman Al-Buthi, dan dihikayat-kan dari Masruq dan Asy-Syafi’i, juga dihikayatkan oleh An-Nawawi dari Syi’ah dan Al-Kasani. Ini adalah pendapat Ibnu ‘Aqil Al-Hambali, dikuatkan oleh Ash-Shan’ani dan beliau sandarkan kepada sejumlah ulama peneliti. Dan ini adalah dzahir pembahasan Asy-Syaukani dalam Wablul Ghamam dan As-Sail, serta pendapat ini yang dipilih oleh Syaikh Muqbil, Syaikh Yahya Al-Hajuri, Syaikh Abdurrahman Al-‘Adani, dan para ulama-ulama dari Yaman lainnya bahwa riba hanya terjadi pada 6 jenis barang diatas dan tidak dapat diqiyaskan dengan yang lainnya. Dengan argumentasi
sebagai berikut :

1. Hadits-hadits yang tersebut dalam masalah ini, yang menyebutkan hanya 6 jenis barang saja.

2. Kembali kepada hukum asal.Hukum asal jual beli adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya. Allah berfirman :

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Al-Baqarah : 275).

Sementara yang dikecualikan dalam hadits hanya 6 barang saja.

Adapun masalah Muzabanah*[1] yang dijadikan dalil oleh jumhur ulama, maka jawabannya adalah sebagai berikut :

~ Syaikh Muqbil ditanya tentang masalah ini, beliau menjawab : “Tidak masalah kalau anggur termasuk barang yang terkena riba.” Wallahul musta’an.

Emas dan Perak

Para ulama berbeda pendapat tentang ‘illat (sebab) emas dan perak dimasukkan sebagai barang riba.

1. Pendapat Zhahiriyyah dan yang sepaham dengan mereka diatas, berpendapat bahwa perkaranya adalah ta’abuddi tauqifi, yakni demikianlah yang disebut dalam hadits, ‘illat-nya adalah bahwa dia itu emas dan perak. Atas dasar ini, maka riba berlaku pada emas dan perak secara mutlak, baik itu dijadikan sebagai alat bayar (tsaman) untuk barang lain maupun tidak. Pendapat ini dipegangi oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam sebagian karyanya.

2. Pendapat Al-Hanafiyah dan yang masyhur dari madzhab Hanabilah, bahwa ‘illat-nya adalah karena emas dan perak termasuk barang yang ditimbang. Sehingga setiap barang yang ditimbang seperti kuningan, platina, dan yang semisalnya termasuk barang yang terkena riba, yaitu di qiyaskan dengan emas dan perak.

Pendapat ini terbantah dengan kenyataan adanya ijma’ ulama yang membolehkan adanya Sistem Salam*[2] pada barang-barang yang ditimbang.

Mata Uang Kertas

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini : apakah mata uang kertas sekarang yang dijadikan alat bayar resmi terkena riba?

Pendapat yang rajih insya Allah adalah bahwa mata uang kertas adalah sesuatu yang berdiri sendiri sebagai Naqd*[3] seperti emas dan perak. Sehingga mata uang kertas itu berjenis-jenis, sesuai dengan perbedaan jenis pihak yang mengeluarkannya.

Ini adalah pendapat Malik, Asy-Syafi’i, satu riwayat dari Ahmad, dan yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, mayoritas Ha’iah Kibarul Ulama. Dan ini yang kebanyakan dipilih oleh peseminar-peseminar fiqih Internasional semacam Rabithah ‘Alam Islami, dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, Syaikh Muqbil. Dan inilah fatwa ulama-ulama kontemporer.

Mereka mengatakan bahwa mata uang kertas disamakan dengan emas dan perak karena hampir mirip (serupa) dengan ‘illat tsamaniyyah (sebagai alat bayar) yang ada pada emas dan perak. Mata uang kertas sekarang berfungsi sebagai alat bayar untuk barang-barang lain, sebagai harta benda, transaksi jual beli, pembayaran hutang piutang dan perkara-perkara yang dengan dasar itu riba diharamkan pada emas dan perak.

Atas dasar pendapat di atas, maka ada beberapa hukum syar’i yang perlu diperhatikan berkaitan dengan masalah ini. Disebutkan dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah (13/442-444) yang diketuai Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz, sebagai berikut :

1. Terjadi dua jenis riba (fadhl-selisih nominal dan nasi’ah-tempo) pada mata uang kertas sebagaimana yang terjadi pada emas dan perak.

2. Tidak boleh menjual 1 jenis mata uang dengan jenis yang sama atau dengan jenis mata uang yang lain secara nasi’ah (tempo) secara mutlak. Misal, tidak boleh menjual 1 dolar dengan 5 Real Saudi secara nasi’ah (tempo).

3. Tidak boleh menjual 1 jenis mata uang dengan jenis yang sama secara fadhl (selisih nominal), baik secara tempo maupun serah terima di tempat. Misal, tidak boleh menjual Rp. 1000,- dengan Rp. 1.100,-

4. Dibolehkan menjual satu jenis mata uang dengan jenis mata uang yang berbeda secara mutlak, dengan syarat serah terima ditempat. Misal, menjual 1 dolar dengan Rp. 10.000,-

5. Wajib mengeluarkan zakatnya bila mencapai nishab dan 1 haul. Nishabnya adalah nishab perak.

6. Boleh dijadikan modal dalam syirkah atau sistem salam.

Wallahu a’lam.

[disadur dari tulisan Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin]

Catatan kaki:

[1] Muzabanah yaitu membeli burr yang masih di pohonnya dengan burr yang sudah dipanen, atau membeli anggur yang masih di pohonnya dengan zabib (anggur kering/ kismis).

[2] Sistem salam : Seseorang menyerahkan uang pembayaran di muka dalam majelis akad untuk membeli suatu barang yang diketahui sifatnya, tidak ada unsur gharar (ketidakpastian) padanya, dengan jumlah yang diketahui, takaran/timbangan yang diketahui dan waktu penyerahan yang diketahui.

[3] Naqd dalam bahasa arab lazim diterjemahkan dengan kritik. Naqd dalam bahasa arab populer berarti penelitian, analisis, pengecekan, dan pembedaan.

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s