Posted in Bank, Finansial, Syari'ah

Mengenal Bank Syari’ah (bagian 6)

image

Bismillah

Mudharabah (baca artikel sebelumnya disini) di dunia bank syari’ah merupakan karakteristik umum dan landasan dasar bagi operasional bank Islam secara keseluruhan. Secara global dapat diklasifikasikan menjadi 2 poin :

1. Akad Mudharabah antara nasabah penabung dengan bank.

2. Akad Mudharabah antara bank dengan nasabah peminjam.

Berikut ini uraian sekaligus
tinjauan syar’i terhadap aplikasi
tersebut diatas :

1. Akad mudharabah antara
nasabah penabung dengan bank. Aplikasinya dalam perbankan syari’ah adalah :

a. Tabungan berjangka

Yaitu tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus seperti tabungan qurban, tabungan pendidikan anak, dan sebagainya.

Sistem atau teknisnya adalah nasabah penabung memiliki ketentuan-ketentuan umum yang ada pada bank seperti syarat-syarat pembukaan, penutupan rekening, mengisi formulir, menyertakan fotokopi KTP, specimen tanda tangan, dan lain sebagainya.

Lalu menyebutkan tujuan dia menabung, misal untuk pendidikan anaknya, lalu disepakati nominal yang disetor setiap bulannya dan tempo pencairan dana.

b. Deposito biasa

Ketentuan teknisnya sama seperti ketentuan umum yang berlaku di semua bank. Pada produk ini, pihak penabung bertindak sebagai Shahibul Maal (pemodal) dan pihak bank sebagai Mudharib (amil). Pada prakteknya harus ada kesepakatan tenggang waktu antara penyetoran dan penarikan agar modal (dana) dapat diputarkan. Sehingga ada istilah deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, dan 12 bulan.

Juga dibicarakan nisbah (persentase) bagi hasilnya dan biasanya dana akan cair saat jatuh tempo.

Secara kenyataan, semua akad pada tabungan berjangka dan deposito tertuang pada formulir yang disediakan pihak bank disetiap Customer Service (CS) nya.

Tinjauan hukum

Secara hukum syar’i, akad yang tertuang dalam formulir yang disediakan pihak bank cukup transparan dan lahiriahnya tidak ada masalah.

Adapun perbedaan sistem deposito/tabungan antara bank syari’ah dan bank konvensional adalah :

a. Akad

Bank Syari’ah sangat terkait dengan akad-akad muamalah syari’ah. Bank konvensional tidak terikat dengan aturan manapun.

b. Imbalan yang diberikan

Bank syari’ah menerapkan prinsip Mudharabah, sehingga bagi hasil tergantung pada :

• Pendapatan bank (hasil/laba
usaha).

• Nominal deposito nasabah.

• Nisbah (persentase) bagi hasil antara nasabah dan bank.

• Jangka waktu deposito.

Bank konvensional menerapkan konsep biaya (Cost Concept) untuk menghitung keuntungan. Artinya bunga yang dijanjikan di muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos yang harus dibayar oleh bank. Di sinilah letak riba pada bank konvensional.

c. Sasaran pembiayaan

Bank Syari’ah terikat dengan usaha-usaha yang halal sedangkan bank konvensional terjun dalam semua usaha yang halal maupun haram.

Namun demikian, ada beberapa hal yang perlu disoroti pada akad Mudharabah antara penabung dan bank syari’ah, di antaranya adalah :

a). Bila terjadi kerugian pada usaha bank atau bank ditutup/bangkrut. Muncul pertanyaan besar :

Siapa yang menanggung kerugian dana simpanan para nasabah?

Jawabnya

Semua bank, baik konvensional maupun bank syari’ah harus terikat dan dinaungi oleh sebuah lembaga independen yang resmi yaitu Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).

Setiap bank mengasuransikan seluruh dana simpanan nasabah kepada lembaga tersebut, pihak bank yang membayar preminya. Bila terjadi kerugian/pailit pada pihak bank, maka LPS lah yang mengganti semua dana simpanan dari nasabah penabung paling banyak Rp 2 miliar (sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 66 Tahun 2008).

Bila demikian kenyataan di lapangan yang tidak mungkin dipungkiri maka hakekat sesungguhnya adalah bukan akad Mudharabah (bagi hasil) tetapi akad Qiradh (pinjaman) yang karakteristiknya adalah harus mengembalikan pinjaman, apapun yang terjadi.

b). Pembiayaan yang dilakukan pihak bank kepada nasabah peminjam.

Di sini muncul pertanyaan :

– Apakah pembiayaan tersebut pada akad-akad yang syar’i?

– Fungsi bank dengan pihak peminjam sebagai apa? Shahibul Maal ataukah wakil nasabah penabung?

Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan di atas diulas pada poin kedua, yakni :

2. Akad mudharabah antara bank
dan nasabah peminjam.

Pada umumnya banyak bank syari’ah yang tidak mengalokasikan dana pembiayaan ke produk Mudharabah dikarenakan risiko yang cukup tinggi, di antaranya :

a. Side streaming, nasabah menggunakan dana itu tidak seperti yang disebut dalam akad.

b. Lalai dan kesalahan nasabah yang disengaja.

c. Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila dia tidak jujur. Bank syari’ah lebih banyak mengalokasikan pembiayaan ke produk Murabahah.

Pihak bank akan mengadakan akad dengan skema Mudharabah dengan masalah melalui proses yang cukup ketat, di antaranya :

a. Melihat reputasi nasabah dalam dunia usaha.

b. Melakukan pembiayaan pada usaha-usaha yang dapat diprediksi pendapatannya seperti :

– Mudharabah dengan koperasi yang melakukan akad Murabahah untuk memenuhi kebutuhan karyawannya.

– Mudharabah dengan pihak yang bergerak di bidang rental officer.

c. Untuk usaha-usaha yang kurang bisa diprediksi pendapatannya seringkalinya dialihkan ke akad Murabahah. Pada akad Mudharabah ini pihak bank bertindak sebagai Shahibul Maal (pemodal) dan nasabah sebagai Mudharib (amil). Saat akad, nasabah dan bank melakukan kesepakatan tentang :

• Biaya yang dikeluarkan.

• Nisbah (persentase) bagi hasil Nisbah ini bisa berubah-ubah, misal, 3 bulan pertama 60:40, tiga bulan kedua 50:50.

• Tenggang waktu Mudharabah.

– Pihak nasabah memberikan dokumen tentang reputasi dia, pendapatan usahanya, dan lain-lain yang dibutuhkan pihak bank.

– Setiap tiga bulan, pihak nasabah membayar kepada bank keuntungan usaha dengan membuat laporan realisasi pendapatan (LRD).

– Pada umumnya pihak bank tidak terlibat dalam usaha nasabah pihak bank hanya terlibat dalam pembiayaan.

– Akad mudharabah ini disertai adanya jaminan dari pihak nasabah.

Tinjauan hukum

Secara umum akad Mudharabah di atas tidak ada masalah. Namun, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab :

a. Dari mana bank memperoleh
modal pembiayaan sehingga
disebut Shahibul Maal?

Jawabnya sumber dana bank berasal dari :

– Modal pemegang saham.

– Titipan (tabungan) dengan sistem Wadi’ah Yad Dhamanah.

– Investasi (tabungan) dari nasabah dengan sistem Mudharabah.

Intinya, bank menghimpun dana
dari nasabah-nasabah penabung
selaku Shahibul Maal yang sesungguhnya. Jadi hakekatnya, PIHAK BANK TIDAK MEMILIKI MODAL HINGGA LAYAK DISEBUT PEMILIK MODAL.

Kesimpulannya, bank hanyalah sebagai perantara/wakil para nasabah penabung untuk melakukan akad mudharabah dan yang lainnya dengan nasabah peminjam. Inilah yang disebut dengan istilah Mudharabatul Mudharib.

Akad Mudharabah jenis ini
TERLARANG dengan alasan berikut :

1. Tidak ada izin khusus dari para nasabah penabung pada umumnya.

2. Kenyataannya, pihak bank mengambil keuntungan bukan upah wakalah. Walau pada prakteknya bank menggabungkan dana modal dalam satu pool dan hasil usaha digabung dari beragam akad dengan nasabah, baik itu Murabahah, Mudharabah, Musyarakah, maupun Ijarah.

b. Bila terjadi kerugian pada usaha nasabah diluar prediksi semua pihak, apakah modal/pembiayaan dari pihak bank harus dikembalikan?

Jawabnya

Prinsip Mudharabah yang syar’i, kerugian yang terjadi selama bukan karena kelalaian amil murni ditanggung modal, dalam hal ini adalah bank. Amil tidak dibebani apapun kecuali dia rugi tidak dapat laba dari usaha tersebut.

[disadur dari tulisan Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin – Majalah Asy Syariah]

Wallahu a’lam.

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s