Posted in Bank, Finansial, Syari'ah

Mengenal Bank Syari’ah (bagian 7)

image

Bismillah

Artikel bagian ke 7 ini merupakan bagian terakhir dari pembahasan panjang tentang Mengenal Bank Syari’ah. Di artikel terakhir ini, pembahasan lebih ditekankan ke akad-akad Mudharabah yang ada pada bank-bank syari’ah di Indonesia.

Praktek yang terjadi di dunia bank syari’ah cukup beragam. Perlu diketahui, bahwa semua bank mempersyaratkan pada akad Mudharabah, semua aset nasabah yang digunakan untuk usaha harus di asuransikan terlebih dahulu. Ini sebagai upaya pengamanan bilamana terjadi sesuatu di luar prediksi semua pihak.

1. Sebagian bank syari’ah langsung melakukan penyitaan aset nasabah yang mengalami kebangkrutan atau menuntut pengembalian modal Mudharabah.

Tindakan ini sangat jelas menunjukkan bahwa kerugian ditanggung Amil (nasabah). Ini jelas menyalahi prinsip Mudharabah yang syar’i. Sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, hakikat akad sesungguhnya bukan Qiradh (Mudharabah) tapi Qardh (pinjaman) yang harus ada pengembalian pinjaman apapun yang terjadi pada pihak peminjam.

Akad Mudharabah di atas termasuk dalam kaidah “Setiap pinjaman yang ada unsur kemanfaatan adalah riba”. Kemanfaatan yang diperoleh pihak bank adalah laba usaha nasabah dengan nisbah bagi hasil.

2. Sebagian bank syari’ah tidak berani melakukan penyitaan secara langsung karena paham tentang konsekuensi akad Mudharabah yaitu kerugian ditanggung bank. Mereka pun melakukan upaya lain yaitu kompromi (islah) dengan pihak nasabah. Misal, meminta nasabah menjual aset yang ada.

Ujung-ujungnya sama dan itulah letak permasalahannya yaitu modal Mudharabah kembali, kerugian ditanggung Amil (nasabah). Hukumnya pun sama dengan yang poin 1 diatas, hanya beda teknis saja, yang satu main kasar, yang ini main halus.

3. Bila usaha nasabah berikut asetnya terkena musibah (peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan/extraordinary), seperti kebakaran yang menghanguskan, maka yang dilakukan oleh pihak bank adalah mengurus klaim dari perusahaan asuransi. Apabila klaim cair maka langsung masuk ke pihak bank untuk mengembalikan modal Mudharabah, bila ada lebihnya baru masuk ke nasabah.

Upaya ini pun juga menunjukkan hasil yang sama yaitu modal harus kembali ke pihak bank syari’ah, kerugian ditanggung nasabah. Hukumnya juga sama dengan yang sebelumnya.

Alasan Pihak Bank

Pihak bank syari’ah biasanya memiliki alasan kenapa harus melakukan upaya-upaya di atas. Alasan mereka adalah :

Pada saat pihak bank mengeluarkan pembiayaan untuk modal Mudharabah dengan nasabah, pihak bank syari’ah diharuskan untuk mempersiapkan “dana talangan”. Besar kecilnya dana tersebut tergantung kelancaran usaha nasabah.

– Bila lancar maka dana talangannya 1 % dari pembiayaan.

– Bila tidak lancar maka dana talangan semakin diperbesar menjadi 5 %, 15 %, dan seterusnya.

– Bila sampai 9 bulan nasabah tidak membayarkan bagi hasil usaha maka dana talangannya menjadi 100 %.

Ini adalah ketentuan resmi dari Bank Indonesia (BI) untuk semua bank. Tujuannya supaya usaha nasabah yang tidak lancar tersebut bisa dihapuskan dan untuk kelancaran bank itu sendiri.

Hakekatnya

1. Ketentuan di atas murni antara pihak bank syari’ah dengan Bank Indonesia (BI), tidak ada sangkut pautnya dengan nasabah.

2. Ketentuan akad Mudharabah murni antara pihak nasabah dengan bank, tidak ada sangkut pautnya dengan Bank Indonesia (BI).

3. Tindakan pihak bank membebankan dana talangan pada nasabah pada skema akad Mudharabah, di luar dan menyalahi prinsip Mudharabah yang syar’i.

4. Penjualan aset nasabah atau pengambilan klaim dari perusahaan asuransi sebagai ganti dana talangan yang disediakan termasuk memakan harta orang lain dengan cara batil. Allah berfirman :

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil”. (An-Nisa’ : 29).

Kesimpulan

Setelah uraian panjang di atas dapat disimpulkan bahwa AKAD MUDHARABAH PADA BANK SYARI’AH ADALAH RIBA DAN BERTENTANGAN DENGAN MUDHARABAH YANG SYAR’I.

Tidak ada bedanya bank syari’ah dengan bank konvensional, bahkan bank syari’ah bisa dikatakan lebih kejam dengan alasan sebagai berikut :

1. Mengatasnamakan dirinya dengan syari’ah.

2. Bunga yang didapatkan dari nasabah jauh lebih besar daripada yang didapat bank konvensional.

3. Bunga yang bank syari’ah berikan kepada nasabah juga lebih besar daripada yang diberikan bank konvensional.

Untuk itu, di himbau kepada semua pihak yang dalam hal ini adalah pemerintah Indonesia, terkhusus kepada Departemen Agama (Depag), Majelis Ulama Indonesia (MUI), para bankir, dan pihak terkait lainnya agar supaya lebih dalam mempelajari kembali semua sistem yang ada di perbankan syari’ah dengan bimbingan Islam yang benar yakni dari Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman para ulama, supaya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada akad-akad bank syari’ah dapat ditiadakan dan dicarikan solusi syar’i terbaik sebagai gantinya.

[disadur dari tulisan Ustadz Abu Abdillah Muhammad Afifuddin – Majalah Asy Syariah]

Wallahu a’lam.

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s