Posted in Aqidah, Islam

Akidah Islam (bagian 2)

image

Bismillah..

Artikel berikut merupakan sambungan dari artikel pada bagian pertama disini. Maka pada artikel bagian 2 ini, akan membahas sumber ilmu akidah islam dari mana saja serta cara memahami sumber akidah itu sendiri.

Sumber ilmu akidah islam berasal dari Al Qur’an dan Sunnah serta ijma’ para ulama merupakan sumber asas dalam pengambilan akidah [1]. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (Qs. An Nisa : 59).

Al Qur’an merupakan sumber utama. Didalamnya terdapat petunjuk bagi orang beriman. Siapa yang berpegang teguh kepadanya, dia tidak akan tersesat dan celaka. Sebagaimana Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu berkata, “Allah ta’ala telah menjamin siapa yang membaca Al Qur’an dan mengamalkan isinya tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat” [2].

Dan Allah ta’ala telah menjamin akan keotentikannya hingga hari kiamat. Tidak akan terjadi adanya penyelewengan berupa penambahan maupun pengurangan terhadap Al Qur’an, sebagaimana terjadi dengan kitab kitab suci sebelumnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “sesungguhnya kamilah yang menurunkan Ad Dzikro (Al Qur’an) dan kamilah yang akan menjaganya” (Qs. Al Hijr : 9),

Dalam memahami Al Qur’an para ulama memiliki metode tafsir yang dikenal dengan tafsir bil ma’tsur. Para ulama mengatakan, “sebaik baik metode penafsiran adalah tafsir Al Qur’an dengan Al Qur’an, kalau tidak ada maka dengan Sunnah, kalau tidak ada maka dengan perkataan para sahabat yang sahih, dan jika tidak ada (juga) maka dengan kesepakatan para tabi’in” [3].

Adapun As Sunnah, maka Allah ta’ala telah menjadikannya sebagai pendamping daripada Al Qur’an. Allah ta’ala berfirman, “Dan Dia mengajarkan mereka al Kitab (Al Qur’an) dan Al Hikmah (Sunnah)” (Qs. Al Baqoroh : 129). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya aku diberi Al Qur’an dan yang semisalnya (As Sunnah) [4].

Allah mensejajarkan keduanya dikarenakan baik Al Qur’an maupun As Sunnah berasa dari wahyu [5]. As Sunnah merupakan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Yang mana Allah telah menjaga beliau dari kesalahan dalam menyampaikan risalahNya. Sehingga semua perkataan beliau wajib diterima. Dan tidak ada yang menyandang sifat ini setelah beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Kemudian para sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Ajma’in telah bersungguh sungguh menyampaikan dan menyebarkan As Sunnah yang mereka dapatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada generasi selanjutnya. Begitu juga seterusnya secara turun terumurun dari generasi ke generasi kaum muslimin berusaha menjaga dan menyebarkan As Sunnah. Sehingga sampai pada masa penulisan, As Sunnah menjadi terbukukan dalam kitab-kitab sunnah seperti Sahih Bukhari, Muslim, Sunan An Nasa’i dan sebagainya.

Namun sebagaimana diketahui, tidak semua hadits yang ditulis dalam buku-buku sunnah bernilai derajat shahih bersumber dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasalam. Adanya campur tangan para pendusta dalam periwayatan hadits menjadi sebab munculnya hadits-hadits lemah (dha’if) bahkan palsu (maudhu‘). Yang karenanya para ulama sangat berhati hati dalam mengambil hadits sebagai sumber, terutama dalam masalah akidah. Merekapun berusaha membedakan antara hadits-hadits yang shahih dengan yang dha’if melalui metode takhrij yang mu’tabar di kalangan ulama hadits. Dan Ahlussunnah -dalam kaitannya dengan mashdar talaqqi– hanya menjadikan hadis shahih sebagai sumber akidah, tanpa membedakan antara hadits yang bersifat ahad maupun mutawatir.

Dalam memahami Al Qur’an maupun As Sunnah para ulama memahaminya sebagaimana yang nampak secara zahir [6], hal ini dikarenakan ajaran islam yang jelas, yang mudah dipahami bahkan oleh orang awam sekalipun. Tanpa memerlukan takwilan-takwilan makna sebagaimana yang dilakukan oleh ahlul bid’ah seperti jahmiyah, mu’tazilah dan yang lainnya. Rasululah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “telah aku tinggalkan kalian diatas sesuatu yang sangat jelas dan terang, yang (saking jelasnya) malamnya seperti siangnya, tidak menyimpang darinya kecuali binasa” [7].

Kemudian dalam memahami Al Qur’an maupun As Sunnah mereka kembalikan kepada pemahaman pendahulu mereka yakni salafussalih, terutama para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam [8]. Hal ini dikarenakan wahyu turun di tengah tengah mereka dan dengan bahasa mereka. Menjadikan merekalah orang yang paling mengerti tentang makna yang benar dari Al Qur’an dan Sunnah. Selain itu juga mereka semua kredibel (uduul) [9]. Sehingga kepercayaan penerus estafet ajaran nabi berupa Al Qur’an dan Sunnah diamanatkan kepada mereka.

Wallahu a’lam.

Catatan kaki :

[1] Lihat : Manhajut Talaqqi Wal Istidlal baina Ahlusunnah Wa Ahlul Bid’ah (Majallatul Bayan, Cet 3; 1422 H), Ahmad bin Abdurrahman As Shuwaiyan, Hal. 29

[2] Dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Al Mustadrok dan disohihkan oleh Ad Dzahabi. Lihat Syarah akidah At Tohawiyah, Ibn Abil Izz. Hal. 126

[3] Lihat : Muqoddimah tafsir, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Syarah Syaikh Al Utsaimin (Madarul Wathon Lin Nasyr, 1433 H) Hal. 130-132

[4] Hr. Ahmad (6/8) Abu Dawud (4604) dan Tirmidzi (2665)

[5] Lihat Qs. An Najm : 3

[6] Lihat pembahasan tentang hal ini dalam Risalah Tadmuriyah, Ibnu Taimiyah (Darul Minhaj, Riyadh Cet I; 1431 H) Kaedah ke 3, Hal. 69-78

[7] HR Ibnu Majah (5) dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Silsilah Ash Sahihah (2/308)

[8] Sebagaimana Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu ketika bercerita tentang sifat para sahabat berkata, “mereka adalah umat ini yang paling baik hatinya, paling dalam ilmunya, paling tidak berlebih lebihan (takalluf), paling lurus petunjuknya, paling bagus keadaannya, mereka adalah suatu kaum yang Allah telah memilih mereka menjadi sahabat sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam” (Jami’ Bayanul Ilmi (2/947)-dinukil dari Al Madkhol Ila Tsaqofah Islamiyah, Hal. 88).

[9] Tentang kredibelitas (‘adalah) sahabat bisa dibaca di kitab ‘Adaalatus Shohaabah Indal Muslimiin, Muhammad Mahmuud Lathiif. (Maktabah Rusyd, Riyadh).

sumber tulisan

Posted from WordPress for Android

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s