Posted in Aqidah, Islam

Akidah Islam (bagian 3)

image

Bismillah..

Artikel kali ini adalah bagian akhir dari pembahasan singkat mengenai akidah islam. Disarankan agar membaca terlebih dahulu artikel sebelumnya disini 👉 artikel pertama dan artikel kedua agar pembaca dapat memahami dengan baik bahasan soal akidah islam itu sendiri.

Pembahasan di artikel bagian ke-3 kali ini akan mengupas tentang hukum dan keutamaan belajar akidah bagi seorang muslim dimanapun dia berada.

Tidak diragukan lagi menuntut ilmu merupakan amalan yang sangat mulia. Bahkan merupakan kewajiban setiap Muslim [1]. Banyak sekali ayat maupun hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang menyebutkan tentang keutamaan seorang ulama dan penuntut ilmu [2]. Mereka adalah sebaik baik makhluk [3]. Kesaksian mereka atas keesaan Allah disejajarkan dengan kesaksian Allah dan para malaikatnya [4]. Derajat mereka ditinggikan [5]. Para malaikat serta makhluk hidup yang lainnya senantiasa mendoakan mereka [6]. Bahkan Allah menjadikan ukuran kebaikan seseorang dengan ilmu yang dia miliki [7]. Cukuplah kemudahan meraih surga [8] yang dijanjikan bagi mereka, menjadi motivasi kita semua untuk mengikuti jejak mereka.

Para ulama menjelaskan bahwa ilmu yang dimaksud dalam nash-nash yang ada adalah ilmu syar’i [9]. Ilmu yang berlandaskan dari Al Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafusshalih. Dan diantara semua ilmu syar’i yang ada, ilmu akidah (atau disebut juga dengan ilmu tauhid) menempati posisi yang pertama. Hal ini dikarenakan objek pembahasannya yang berkaitan dengan Zat Allah dan peribadahan kepadanya. Sementara tidak ada yang lebih dibutuhkan oleh jiwa manusia melebihi pengenalannya terhadap Zat Allah ta’ala ( (ma’rifatullah). Dan –sebagaimana kata para ulama-[10] “keutamaan suatu ilmu bergantung dengan keutamaan objek yang dikaji dalam ilmu tersebut.”

Mempelajari ilmu akidah secara umum hukumnya wajib bagi seorang Muslim. Namun para ulama membaginya menjadi dua bagian. Yang bersifat fardhu ‘ain, yaitu ilmu akidah secara global (Ijmaali) dan yang bersifat fardhu kifayah, berupa rincian rincian ilmu akidah (Tafshiili) [11]. Akidah ahlusunnah secara global seperti keyakinan adanya Allah, malaikat, para nabi, dan kitab-kitab yang diturunkan, serta akan datangnya hari kiamat dan sebagainya. Dalam hal ini wajib bagi setiap muslim untuk mempelajari dan mengetahui serta meyakininya dan berdosa jika ditinggalkan. Adapun rincian hal-hal tersebut, seperti mengenal nama-nama malaikat dan tugas-tugasnya atau rincian kejadian di hari kiamat dan sebagainya, maka hukum mempelajarinya adalah fardhu kifayah. Jika sebagian kaum muslimin sudah mempelajarinya dengan benar, maka menjadi gugur kewajiban kaum muslimin yang lain untuk mempelajarinya.

Namun ada dua kondisi dimana mempelajari rincian akidah menjadi fardhu ain. Yang pertama ketika seseorang memiliki kesempatan dan kemampuan untuk mempelajarinya. Dalam kondisi seperti ini, tidak diperbolehkan baginya meninggalkan kesempatan mempelajari rincian akidah yang benar. Seperti seseorang yang berkesempatan menempuh pendidikan di timur tengah, dan disana diajarkan kajian akidah secara rutin, maka ketika itu diwajibkan baginya mengikuti dan mempelajari akidah tersebut. Namun bagi masyarakat awam misalnya, yang tidak memiliki kesempatan atau kemampuan mempelajari akidah, maka cukup baginya mengetahui akidah ahlusunnah secara global.

Adapun keadaan yang kedua, mempelajari rincian akidah menjadi wajib ketika hal itu menjadi kebutuhan mendesak. Sebagai contoh, di suatu tempat yang disana tersebar aliran sesat, sehingga banyak orang yang rusak akidahnya, maka setiap orang wajib membentengi dirinya dengan ilmu akidah yang berkaitan dengan penyimpangan yang terjadi. Yang dengan itu dia bisa menangkal dan selamat dari paham sesat tersebut. Seseorang yang tinggal di tempat yang disana tersebar aliran syi’ah, wajib baginya untuk mempelajari syubhat-syubhat syi’ah dan bantahannya. Seseorang yang tinggal di tempat yang disana banyak penyembah kuburan, wajib baginya untuk mempelajari tentang syirkul qubur (syirik yang berkaitan dengan kuburan) dan seterusnya.

berikut beberapa point yang menunjukan pentingnya mempelajari ilmu akidah :

Kewajiban pertama dan terakhir setiap muslim

Para ulama sepakat bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf adalah membaca dua kalimat syahadat yang merupakan kalimat tauhid [12]. Dan mereka juga sepakat, bahwa seseorang yang sudah melakukannya sebelum baligh tidaklah diperintahkan untuk memperbaharui dengan mengulanginya kembali ketika sudah baligh [13].

Begitu juga seorang yang kafir, ketika hendak masuk islam kewajiban yang pertama kali dibebankan kepadanya adalah mengucapkan dua kalimat syahadat. Sebagaimana ditunjukan oleh hadits riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu. Ketika Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal Rodhiyallahu ‘Anhu ke Yaman beliau bersabda, “Wahai Mu’adz sesungguhnya engkau akan menemui kaum ahli kitab. Maka hendaklah hal yang pertama kali engkau dakwahkan adalah supaya mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah…” [14].

Selain kewajiban yang pertama tauhid juga kewajiban akhir seorang muslim. Seseorang yang meninggal dalam keadaan bertauhid akan masuk syurga. Namun sebaliknya jika seseorang meninggal dalam keadaan syirik yang membatalkan tauhidnya, maka dia akan masuk neraka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Siapa yang akhir perkataannya laa ilaaha illallah dia akan masuk surga” [15]. Beliau juga bersabda, “talkinlah seorang yang hendak meninggal dari kalian untuk mengucapkan laa ilaaha illallahu..” [16]. Maka tauhid merupakan kewajiban yang pertama dan yang terakhir setiap Muslim.

Ilmu tauhid dibutuhkan di alam kubur

Bukan hanya di dunia, Ilmu tauhid juga dibutuhkan hingga di alam kubur untuk menjawab fitnah kubur berupa 3 pertanyaan malaikat [17]. Sebagaimana diketahui bahwa seorang yang sudah meninggal akan mendapatkan fitnah kubur berupa pertanyaan malaikat. Tentang siapa Tuhan, Nabi, dan Agama mereka. Tiga pertanyaan ini hanya akan dijawab oleh mereka yang memiliki akidah yang benar tentang tiga hal tersebut [18].

Akidah dengan amalan ibarat sebuah pondasi dari sebuah bangunan

Tanpa akidah yang benar suatu amalan tidak akan berguna. Allah ta’ala berfirman “Dan kami hadapkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan” (Qs. Al Furqan : 23). Dan inilah salah satu alasan kenapa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam di permulaan dakwahnya, tiga belas tahun di Makkah, hanya berdakwah kepada tauhid. Sampai ketika tauhid ini sudah menancap dalam jiwa para sahabat, barulah turun syariat syariat yang merupakan bangunan agama Islam.

Inti dakwah para nabi

Diutusnya para Rasul merupakan salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia. Hal ini disebabkan kebutuhan manusia terhadap dakwah yang dibawa oleh para Rasul sangat mendesak. Bahwa keselamatan dan kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat terdapat pada ajaran yang dibawa oleh para Rasul. Allah ta’ala berfirman “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (Qs. Al Imran : 164)

Dan kalau kita membaca nash-nash yang ada, kita akan mengetahui bahwa inti ajaran para Rasul yang di utus adalah tauhid [19]. Tidaklah seorang Rasul di utus, kecuali menyeru kaumnya kepada tauhid. Allah ta’ala berfirman “Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (Qs. An Nahl : 34). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah” [20]. Hal ini menunjukan pentingnya tauhid.

Bahaya tidak memahami tauhid

Seseorang yang tidak memiliki ilmu tauhid yang benar mungkin sekali terjatuh kedalam kesyirikan yang merupakan dosa yang paling besar. Bahkan bisa mengeluarkan pelakunya ke dalam islam. Dia akan meremehkan perbuatan dosa, bahkan syirik sekalipun. Dia akan menyangka selama sudah mengucapkan dua kalimat syahadat maka dia akan aman. Padahal lihatlah nabi Ibrahim ’alaihi Salam. Imamnya Ahlu Tauhid, bapak para nabi, penghancur berhala berhala di zamannya. Meskipun begitu beliau sangat takut terhadap kesyirikan [21], hingga selalu berdoa kepada Allah meminta dijauhkan dari perbuatan kaumnya yaitu menyembah patung. Allah ta’ala berfirman –menyebutkan doa nabi Ibrohim ‘alaihi salam, “dan jauhkanlah aku dan anak anaku dari menyembah patung” (Qs. Ibrahim: 35). Ini tentu berdasarkan pemahamannya terhadap makna tauhid yang benar. Hal ini tidak akan timbul dari orang yang bodoh terhadap ilmu tauhid.

Perhatian para ulama salaf terhadap Ilmu Akidah

Kalau kita membaca sejarah para pendahulu kita dari kalangan salaf, kita akan mendapatkan besarnya perhatian mereka terhadap masalah akidah. Tidak ada yang lebih diperhatikan oleh para ulama salaf melebihi perhatian mereka terhadap ilmu akidah. Hal ini terlihat dari banyaknya kitab yang ditulis dalam ilmu akidah [22]. Hal ini tentu saja berdasarkan pemahaman mereka akan pentingnya ilmu akidah, serta bahaya yang akan timbul dari kebodohan umat dalam masalah akidah.

Wallahu a’lam .

Catatan kaki :

[1] Hadits Anas bin Malik lihat hadits no 5266 dalam Al Jaami’ As Shoghir Imam Suyuthi, dan dihasankan oleh beliau.

[2] Tentang keutamaan ilmu lihat di kitab Jaami’ bayaanul Ilmi Wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr (Dar Ibnul Jauzi, Dammam)

[3] Qs. Al Bayyinah : 7

[4] Qs. Al Imron : 18

[5] Qs. Al Mujadalah : 11

[6] Lihat hadits no 1838 di sohih Al Jaami.

[7] Lihat hadits riwayat Bukhori No. 7312 dan Muslim No. 1037

[8] Lihat Hadits no 88 di sohih Ibnu Hibban

[9] Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam Qashidah Annuniyah nya berkata,

العلم قال الله وقال رسوله قال الصحابة هم أولوا العرفانى

“Ilmu adalah firman Allah dan firman Rosul Nya perkataan para sahabat merekalah pemilik pengetahuan”

[10] Ibn Abil Izz, Syarhul Akidah At Tohawiyah, hal. 2

[11] Ibid hal. 3. Namun dalam ta’liq (catatan) nya terhadap Syarh Akidah Tohawiyah, Dr. Ibrahim Ar Ruhaili Rahimahullah berpandangan bahwa tidak tepat pembagian mempelajari akidah menjadi fardhu ain dan fardhu kifayah. Tapi lebih tepat dikatakan pembagiannya menjadi wajib dan mustahab. Sebagai contoh mengenal Allah ta’ala dengan mempelajari asmaul husna secara rinci tidak tepat jika dikatakan sebagai fardhu kifayah, bahkan fardhu ain bagi setiap orang untuk mengenal Allah. Wallahu ‘Alam

[12] Hal ini berbeda dengan keyakinan Asyairah. Diantara mereka ada yang menyatakan bahwa kewajiban seorang mukallaf adalah keraguan (As Syak). Sebagian lain menyatakan pengamatan (An Nadzor) dan seterusnya sampai ada 6 lebih pendapat. (lihat Dr Safar Hawali, Manhajul Asyaa’iroh Fil Akidah (Dar Sofwah, cet 1 1434 H) hal. 16 dan Syarhul Akidah Tohawiyah. Hal.6

[13[ Ibn Abil Izz. Hal. 6

[14] HR Bukhori no. 4347

[15] Dikeluarkan oleh Ibnu Hibban (719), dan disohihkan oleh syaikh Al Bani dalam Irwaaul Gholil (3/50)

[16[ HR Muslim No. 916

[17] Fitnah kubur disepakati keberadaannya oleh para ulama baik salaf maupun khalaf. Dalam hal ini kelompok yang menyelisihi dengan mengingkari adanya fitnah kubur adalah Bisyr Al Mariisi dan para pengikutnya dari kalangan Mu’tazilah. Lihat Ma’aarijul Qobul, Hafidz Al Hakimi (Dar Ibnul Jauzi, Dammam, Cet. 8; 1432 H) Juz 2 Hal. 872-880

[18] Penjelasan tentang tiga jawaban atas pertanyaan malaikat dijadikan dasar dalam risalah Ushulus Tsalasah, Muhammad bin Abdul Wahhab Rahimahullah

[19] Lihat Ibn Abil Izz, Syarhul Akidah At Tohawiyah, Hal. 137

[20] HR Bukhari No. 22 dan Muslim No. 25

[21] Lihat pembahasan tentang hal ini di kitabut Tauhid, Muhammad bin Abdul Wahhab, bab 3. Dan syarahnya Syaikh Shalih Alu syaikh, At Tamhid (Maktabah Darul Minhaj, Riyadh) hal. 50-65

[22] Lihat perkembangan penulisan kitab kitab akidah dalam kitab Tadwin Ilmul Akidah Inda Ahlis Sunnah Wal Jama’ah, Dr. Yusuf bin Ali At Thoraifi (Dar Ibnu Khuzaimah, cet I: 1430 H, Riyadh), terutama di Muqoddimah (Hal. 11-43)

sumber tulisan

Posted from WordPress for Android

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s