Posted in Asia, Bangsa, Negara, Sejarah

Assassin : Kelompok Pembunuh Rahasia Dari Persia (bagian 1)

image

Bismillah

Pernahkah Anda bermain game Assassin’s Creed besutan developer Ubisoft atau Gameloft di konsol (Playstation, X-Box dan PC) atau di ponsel? Game ini begitu populer di kalangan anak-anak muda zaman sekarang. Game ini termasuk dalam genre historical fiction action-adventure dan saya yakin banyak dari kita yang belum tahu sejarah kelompok ini. Maka pada artikel kali ini saya akan mengulas sedikit tentang kelompok pembunuh rahasia ini.

Penting untuk pembaca artikel ini ketahui, bahwa sumber literasi mengenai kelompok Assassin ini hampir susah ditemui di internet ataupun manuskrip-manuskrip [1] tentang mereka, karena pasukan Mongol (pada saat bangsa Mongol menguasai hampir sebagian wilayah di dunia dengan perang – baca artikel saya tentang Mengenal Bangsa Mongol (bagian 2)) telah membakar habis perpustakaan mereka ketika menaklukkan benteng kelompok Assassin ini di Alamut [2].

Assassin (atau Hassasin) berasal dari bahasa Arab الحشاشين, yang jika di transliterasi menjadi “Al-Hasyasyiin” (juga biasa disebut Hasyisyin, Hasyasyiyyin atau Hasysyasyin) adalah salah satu sekte Syi’ah, tepatnya dari Syi’ah Ismailiyah. Hingga saat ini kelompok ini mendirikan beberapa pemukiman tersembunyi mereka di Iran, Irak, Suriah dan Lebanon. Kata Assassin ini mengacu kepada seorang pencetus gerakan awal kelompok ini bernama Hassan-i Sabbāh (keturunan Yaman yang lahir dan menghabiskan sebagian besar masa hidupnya di wilayah Iran). Awalnya, kelompok ini berdedikasi untuk membunuh pemimpin-pemimpin penting yang berlawanan keyakinan dengan mereka yakni Sunni (Ahlussunnah wal Jamaah), yang mereka anggap sebagai “kaum kafir perebut tahta kekuasaan”.

Pencetus Kelompok Assassin :

image

Hassan-i Sabbāh lahir pada pertengahan abad ke-11 di kota Qum – Iran. Dia kemudian mengikuti orang tuanya pindah ke kota Rayy (Teheran). Mengikut keyakinan keluarganya, Hassan-i Sabbāh menganut faham Syi’ah Itsna Asy’ariyah (Dua Belas Imam). Dalam cuplikan biografinya, sebagaimana dikutip oleh Bernard Lewis dalam bukunya Assassin, Hassan-i Sabbāh menulis bahwa “sejak berusia tujuh tahun, aku sudah jatuh hati pada kepada pelbagai cabang ilmu pengetahuan dan bercita-cita menjadi ulama.” Hingga sepuluh tahun berikutnya, dia “menjadi pencari dan penuntut ilmu dengan tetap mempertahankan keyakinan Syi’ah Itsna Asy’ariyah (Dua Belas Imam) yang dianut oleh ayahnya.

Keadaan berubah saat Hassan-i Sabbāh bertemu seorang dai Syi’ah dari sekte Ismailiyah [3] bernama Amira Darrab seorang Rafiq (sahabat) merujuk pada istilah yang digunakan di kalangan Syi’ah Ismailiyah. Hassan-i Sabbāh pada awalnya menolak pandangan-pandangan Amira Darrab. Namun kepribadiannya yang menarik dan kepandaiannya berargumen membuat keyakinan Hassan-i Sabbāh akhirnya goyah. Dia pun berpindah keyakinan kepada sekte Ismailiyah yang pada masa itu memang lebih dominan dibandingkan Itsna Asy’ariyah. Pada pertengahan tahun 1072, Hassan-i Sabbāh di baiat oleh pimpinan dai Syi’ah Ismailiyah di Persia Barat dan Irak, Abdul Malik bin Attasy.

Sekitar empat tahun kemudian, Hassan-i Sabbāh melakukan perjalanan dari Rayy menuju Isfahan. Setelah itu ia ke Kairo – Mesir, tempat bersemayam Daulah Fatimiyah (salah satu dinasti Syi’ah) [4], sekaligus pusat pemerintahan Syi’ah Ismailiyah ketika itu. Hassan-i Sabbāh tiba di Kairo pada pertengahan tahun 1078. Ia hanya menetap tiga tahun di kota itu dan juga di kota Alexandria. Belakangan Hassan-i Sabbāh berseteru dengan seorang Wazīr [5] bernama Badr al-Jamali yang menyebabkan Hassan-i Sabbāh terpaksa pergi meninggalkan Mesir dan kembali ke Persia.

Tahun 1078 adalah kedatangan Hasan-i Sabbāh di Kairo – Mesir, juga merupakan tahun kematian Mu’ayyad al-Din al-Shirazi, pimpinan misionaris (Da’i al-Du’at) Syi’ah Ismailiyah sekaligus seorang intelektual penting yang membawa falsafah Syi’ah Ismailiyah pada puncak jayanya. Kedudukannya digantikan oleh Badr al-Jamali (wafat pada tahun 1094), seorang bekas budak dari Armenia yang karirnya menanjak cepat di pemerintahan Daulah Syi’ah Fatimiyah. Badr al-Jamali juga merupakan Wazīr dan kepala tentara Daulah Fatimiyah. Kuatnya pengaruh Badr al-Jamali serta keturunannya pada masa berikutnya akan menyebabkan posisi Khalifah pada Daulah Fatimiyah mulai kehilangan pengaruh, sebagaimana yang terjadi pada Daulah Abbasiyah.

Kelak anak dari Badr al-Jamali bernama al-Afdal yang meneruskan kedudukannya dan akan menyingkirkan putra mahkota dari Daulah Fatimiyah yang memiliki dukungan luas bernama Abū Mansūr Nizār al-Mustafá li-Dīn’il-Lāh (wafat antara tahun 1095-1097), dan menggantinya dengan putera Khalifah yang lain. Hal itu nantinya akan memicu perpecahan ditubuh Syi’ah Ismailiyah, antara pihak yang berkuasa di Kairo dan pihak yang pro Abū Mansūr Nizār al-Mustafá li-Dīn’il-Lāh di mana Hassan al-Sabbāh menjadi salah satu pendukung utamanya. Tapi hal ini baru terjadi sekitar dua dekade setelah keberadaan Hasan al-Sabbāh di Mesir.

Alamut (Hassan Castle) :

image

Setelah meninggalkan Mesir, Hassan-i Sabbāh kembali ke wilayah Iran dan menyebarkan dakwah Syi’ah Ismailiyah disana. Pada akhir tahun 1080-an, ia memfokuskan dakwahnya di wilayah Dailam [6] di wilayah utara Iran di masyarakat yang tidak puas dengan pemerintahan Daulah Abbasiyah dan Daulah Seljuk Raya [7], di wilayah Dailam ini, mayoritas penduduknya penganut agama Syi’ah dan juga wilayah ini tidak sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah karena lokasinya yang agak jauh dari pusat pemerintahan.

image

Di wilayah itu, tepatnya di pegunungan Alborz, ada sebuah benteng yang sangat strategis dan sulit dijangkau. Benteng itu dibangun pada masa silam oleh seorang raja Dailam yang menemukan lokasi tersebut ketika burung elangnya terbang ke tempat itu saat sedang berburu. Raja tersebut membangun benteng di sana dan memberinya nama Aluh Amut yang menurut bahasa setempat bermakna ‘Sarang Elang’. Nama itu belakangan berubah menjadi Alamut.

Secara bertahap, Hassan-i Sabbāh menyusupkan pengkiutnya ke dalam benteng Alamut dan menyebarkan pengaruh secara rahasia di dalam benteng. Pada tahun 1090, ia sendiri menyusup dengan menyamar ke dalam benteng. Ketika penguasa benteng itu akhirnya mengetahui apa yang terjadi, keadaannya sudah terlambat, karena pengaruh Hassan-i Sabbāh sudah terlalu kuat. Ia terpaksa menerima tawaran Hassan-i Sabbāh agar menjual benteng itu kepadanya seharga 3000 dinar emas dan pergi meninggalkan benteng itu setelahnya.

image

Penguasa dari Daulah Seljuk berusaha merebut kembali Alamut setelah benteng itu dikuasai oleh Hassan-i Sabbāh, tetapi mereka tidak berhasil. Alamut tetap berada di bawah kekuasaan Hassan-i Sabbāh dan para pengikutnya hingga satu setengah abad berikutnya.

Dikuasainya benteng Alamut oleh Hassan-i Sabbāh menandai era baru gerakan Syi’ah Ismailiyah di wilayah Persia, serta “meletakkan dasar bagi sebuah negara baru dan unik, di atas prinsip yang sangat berbeda dengan masyarakat Sunni di sekitarnya,” tulis Marshall Hodgson dalam The Order of Assassin.

Hal ini juga menandai kemunculan sebuah kelompok yang kemudian terkenal dengan menggunakan cara-cara berdarah dalam menghabisi lawan-lawan politik dan keyakinannya. Seperti dikatakan Steven Runciman dalam A History of the Crusades, “Senjata politik utama yang digunakan (Hassan-i Sabbāh) adalah apa yang dengannya para pengikutnya melahirkan namanya, pembunuhan.”

Yup, para pengikut Hassan-i Sabbāh memang kelak dikenal, terutama di negara-negara Barat, sebagai kaum Assassin (Pembunuh).

Sejak menguasai Alamut, Hassan-i Sabbāh berusaha menguasai benteng-benteng strategis lainnya di kawasan Iran Utara. Hal ini menjadi ciri khas gerakan Assassin pada masa-masa berikutnya, yaitu menguasai kastil-kastil yang sulit dijangkau di kawasan pegunungan yang agak jauh dari pusat-pusat pemerintahan Saljuk. Selain itu, Hassan-i Sabbāh juga mengembangkan doktrin Syi’ah Ismailiyah yang kemudian dikenal sebagai “dakwah baru” (al-da’wa al-jadida). Menurut Farhad Daftary dalam artikelnya “Hassan Sabbāh”, dakwah baru ini sebenarnya merupakan formulasi ulang dari doktrin ta’lim (authoritative instruction) yang sudah mapan di dalam ajaran Syi’ah Ismailiyah.

Hassan-i Sabbāh mampu membangun otoritas yang kuat di kalangan pengikutnya sehingga dapat dikatakan mereka mentaatinya secara mutlak. Para pengikutnya itu siap mati dalam menjalankan perintah Hassan-i Sabbāh dan para pemimpin setelahnya. Hassan-i Sabbāh sendiri disebut oleh para pengikutnya dengan sebutan Sayyidna (our Master).

Hassan-i Sabbāh melatih sebagian pengikutnya secara khusus untuk melakukan penyamaran, penyusupan, dan pembunuhan. Para pembunuh ini, biasanya disebut Fida’i [8], ditugaskan untuk membunuh tokoh-tokoh penting di kalangan Sufi, Ahlul Kalam dari kalangan Islam Sunni. Para pembunuh terlatih ini harus siap mati, karena biasanya mereka akan mati dalam menjalankan tugasnya, baik tugas itu berhasil ataupun gagal.

Wallahu a’lam.

Catatan kaki :

[1] Manuskrip adalah sebuat tulisan tangan yang telah ditulis oleh orang terdahulu yang masih ada sampai saat ini. Manuskrip terdiri dari dua kata yaitu manu dan skrip yang jika diterjemahkan yakni tulisan tangan. Silahkan buka kamus besar bahasa Indonesia Online 👉 http://kbbi.web.id/manuskrip

[2] Alamut adalah benteng gunung yang terletak di wilayah Alamut di provinsi Selatan Kaspia dari Daylam dekat wilayah Rudbar di Iran, sekitar 100 km dari ibu kota negara Teheran. Alamut dalam bahasa persia yang artinya Sarang Elang. Silahkan buka 👉 https://en.m.wikipedia.org/wiki/Alamut_Castle

[3] Ismailiyah (bahasa Arab: الإسماعيليون al-Ismā’īliyyūn; bahasa Urdu: اسماعیلی Ismā’īlī, bahasa Persia: اسماعیلیان Esmā’īliyān) adalah mazhab dengan jumlah penganut kedua terbesar dalam agama Syi’ah, setelah mazhab Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariah). Sebutan Ismailiyah diperoleh pengikut mazhab ini karena penerimaan mereka atas keimaman Isma’il bin Ja’far sebagai penerus dari Ja’far ash-Shadiq. Silahkan baca 👉 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Ismailiyah

[4] Fatimiyah, atau al-Fāthimiyyūn (bahasa Arab الفاطميون) ialah penguasa Syiah yang berkuasa di berbagai wilayah di Maghreb, Mesir, dan Syam dari 5 Januari 910 hingga 1171. Negeri ini dikuasai oleh Ismailiyah, salah satu cabang Syi’ah. Pemimpinnya juga para imam Syiah, jadi mereka memiliki kepentingan keagamaan terhadap Isma’iliyyun. Kadang dinasti ini disebut pula dengan Bani Ubaidillah, sesuai dengan nama pendiri dinasti. Silahkan baca 👉 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Fatimiyah

[5] Seorang Wazir (Bahasa Persia, وزير – Wazīr) (dalam berbagai bahasa disebut sebagai Vazir, Vizir, Vasir, Vizier, Vesir, atau Vezir), secara harfiah berarti “pembantu”, adalah sebuah istilah Persia untuk seorang penasihat atau menteri politik (kadang-kadang keagamaan) berkedudukan tinggi, biasanya ditemui dalam sistem monarki Syi’ah seperti Khalifah, Amir, Malik (raja) atau Sultan. Silahkan baca https://id.m.wikipedia.org/wiki/Wazir

[6] Lihat 👉 https://en.m.wikipedia.org/wiki/Dailamites

[7] Kekaisaran Seljuk Raya atau Kekaisaran Seljuk Agung adalah imperium Islam Sunni abad pertengahan yang pernah menguasai wilayah dari Hindu Kush sampai Anatolia timur dan dari Asia Tengah sampai Teluk Persia. Silahkan baca 👉 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kesultanan_Seljuk_Raya

[8] Zaman sekarang kita mengenal Fida’i adalah lagu kebangsaan Negara Palestina. Lihat 👉 https://en.m.wikipedia.org/wiki/Fida%27i

Sumber artikel :

1. Sumber 1

2. Sumber 2

3. Sumber 3

Posted from WordPress for Android

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s