Posted in Asia, Bangsa, Negara, Sejarah

Assassin : Kelompok Pembunuh Rahasia Dari Persia (bagian 2)

image

Bismillah

Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya Assassin : Kelompok Pembunuh Rahasia Dari Persia (bagian 1). Pada artikel bagian 2 ini, sedikit membahas tentang strategi kelompok Assassin ini dalam menyerang dan siapa yang menjadi target mereka.

Orang pertama yang menjadi sasaran pembunuhan kaum Assassin adalah Nizham al-Mulk [1] (wafat pada tahun 1092). Nizham merupakan Wazīr paling penting Daulah Seljuk, sekaligus salah satu tokoh utama kebangkitan kembali Ahlul Kalam (Filsafat) [2] pada masa itu, selain Abu Hamid al-Ghazali [3] (wafat pada tahun 1111) dari kalangan orang-orang berpaham Asy’ariyah [4]. Nizham al-Mulk dibunuh seorang Assassin yang menyusup saat melakukan perjalanan haji pada tahun 1092.

image

Ketika Nizham al-Mulk tiba di daerah Nahavand (Iran) [5], seorang pemuda dari Dailam yang menyusup ke rombongannya dengan mengenakan pakaian Sufi meminta izin untuk mendekat kepadanya. Saat ia diberi izin dan mendekat kepada Nizham al-Mulk, sang Assassin yang menyusup tersebut langsung mengeluarkan belati dan menikam sang Wazīr tepat di jantungnya. Nizham al-Mulk wafat tak lama kemudian.

Pemuda Dailam yang merupakan pengikut Hassan-i Sabbāh itu berhasil ditangkap dan dihukum mati. Namun perbuatannya itu tidak hanya mengakhiri hidup satu orang, tetapi memberi dampak serius pada Daulah Seljuk secara keseluruhan, karena Nizham al-Mulk adalah arsitek sesungguhnya dari Daulah tersebut.

Beberapa waktu kemudian, masih pada tahun yang sama (tahun 1092), Sultan dari Daulah Seljuk – Turki bernama Maliksyah, meninggal dunia. Setelah itu, Daulah Seljuk Raya mengalami perpecahan dan kemunduran dan tidak pernah bangkit kembali setelahnya.

Dengan melemahnya Daulah Seljuk Raya, maka kelompok Assassin menjadi lebih leluasa dalam menyebarkan pengaruh Syi’ah Ismailiyah mereka di wilayah-wilayah Islam lainnya. Pecah dan melemahnya Daulah Seljuk Raya juga menjadi faktor utama yang mendorong terjadinya Perang Salib I, karena Byzantium [6] melihat peluang di balik perpecahan itu dan mengajak orang-orang dari suku Frank [7] untuk melakukan serangan ke Asia Minor dan Suriah. Saat pasukan salib masuk dan menetap di wilayah Suriah dan Palestina nantinya akan menemukan kelompok Assassin ini dalam banyak kesempatan menjalin hubungan persahabatan dengan orang-orang dari suku Frank. Karena musuh utama kelompok Assassin adalah Islam Sunni secara keseluruhan dan bisa saja ke orang-orang Kristen Eropa.

Menjelang atau bertepatan dengan masuknya pasukan salib ke Asia Minor dan Suriah itu pula terjadi perpecahan di dunia Syi’ah Ismailiyah. Khalifah pada Daulah Fatimiyah, al-Mustansir, wafat pada tahun 1094. Nizhar yang merupakan putera mahkota digulingkan dari kekuasaan oleh Wazīr al-Afdal. Adik Nizhar, al-Musta’li, diangkat oleh al-Afdal sebagai khalifah yang baru. Nizhar menolak menerima hal itu, tetapi akhirnya ia mati dibunuh.

Banyak kalangan di Syi’ah Ismailiyah di luar Mesir tidak bisa menerima hal itu, terutama yang berada di kawasan Iran dan sekitarnya. Bagi mereka, Nizhar merupakan putra mahkota yang sah. Hal ini juga sejalan dengan doktrin agama Syi’ah Ismailiyah yang menetapkan anak pertama dari imam sebelumnya sebagai imam penerus, sebagaimana penetapan mereka atas Ismail sebagai imam Syi’ah ketujuh yang sah, dan bukan Musa al-Kadzim, karena Ismail merupakan anak tertua Ja’far Shadiq.

Mereka yang mendukung Nizhar selanjutnya disebut sebagai Nizhari, dan Hassan al-Sabbāh merupakan pendukung terkuatnya. Sejak itu mulai berkembang ide tentang ghaibnya Imam Nizhar di kalangan Nizhari atau dikatakan bahwa keturunannya telah melarikan diri dari Kairo dan berlindung di benteng Alamut sebagaimana yang diklaim pihak Hassan al-Sabbāh. Pada intinya, para pendukung Nizhar kini berseberangan dan bermusuhan dengan pusat kekuasaan Daulah Fatimiyah di Mesir. Dengan begitu, Alamut dan kastil-kastil pendukungnya menjadi sentral pemerintahan Ismailiyah (Nizhari) yang bergerak secara independen, terpisah dari pemerintahan Kairo.

Teror kaum Sunni

image

Sejak keberhasilannya dalam membunuh Nizham al-Mulk, para kaum Assassin menggunakan metode yang sama untuk meneror para pemimpin Islam Sunni. Beberapa pemimpin di dunia Islam Sunni menjadi korban pembunuhan kaum Assassin di sepanjang abad ke-12. Kaum Assassin menyamar dan menyusup ke tempat yang biasa diakses calon korbannya. Kadang mereka mampu menyusup dan menjadi orang-orang kepercayaan di lingkaran terdekat si calon korban, dan siap menerima instruksi dari Tuan mereka untuk melakukan eksekusi.

Mereka menyamar sebagai tentara, sebagai pelayan, sebagai pedagang, atau sebagai seorang Sufi yang berpakaian sederhana.

Ketika saatnya tiba, mereka melakukan serangan mematikan tanpa diduga. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Amin Maalouf dalam bukunya “The Crusades through Arab Eyes”, walaupun persiapannya selalu dijalankan dengan tingkat kerahasiaan yang tinggi, eksekusinya dilaksanakan di tempat terbuka, bahkan di depan kerumunan yang besar. Itulah sebabnya mengapa lokasi (pembunuhan) yang disukai adalah masjid, hari favoritnya adalah Jum’at dan pada umumnya (dilakukan) pada tengah hari.”

Pada masa-masa berikutnya, “Semua pemimpin Islam Sunni belajar untuk takut kepada mereka, demikian pula dengan kaum Salib (Crusaders) tak lama setelahnya …,” tulis Michael Paine dalam The Crusades. “Rasa takut terhadap serangan mendadak yang tak diduga di tengah kerumunan pasar atau di lapangan meningkat hingga ke level paranoid di kalangan sebagian pemimpin.”

Sebenarnya banyak analisa dibalik motif didirikannya kelompok Assassin ini, selain memang bertujuan melawan Islam, para analis juga mengatakan bahwa Assassin tidak lain adalah kelompok yang dibentuk untuk memenuhi misi pribadi yang dibawa oleh Hassan-i Sabbāh setelah disingkirikan Daulah Fathimiyyah. Hal ini pun diamini oleh Philip K. Hitti. Dalam bukunya, The History of Arabs, Hitti mendelegasikan bahwa kelompok Assassin ini murni memuaskan ambisi pribadi dan dari segi keagamaan sebagai alat untuk balas dendam kepada Daulah Fathimiyyah.

image

Aksi-aksi dari para kelompok pembunuh rahasia Assassin ini telah memakan banyak korban. Bahkan Khalifah Daulah Fatimiyah bernama al-Amir Bi-Ahkamillah (wafat pada tahun 1130), dan Khalifah Daulah Abbasiyah [8] bernama al-Mustarsyid (wafat pada tahun 1135), termasuk yang menjadi korban pembunuhan Assassin. Begitu banyak kasus pembunuhan, “sehingga memaksa beberapa pejabat memakai baju pengaman dari besi yang dipasang di balik baju,” tulis al-Suyuthi dalam Tarikh Khulafa’. Mereka mengenakan baju besi itu pada hari-hari yang biasa, di luar masa-masa peperangan.

Belakangan, pemimpin suku Frank pun ada yang menjadi korban pembunuhan kelompok Assassin ini, di antaranya yang terkenal adalah Conrad of Montferrat [9] (wafat pada tahun 1192) yang dibunuh pada akhir masa Perang Salib III.

“Keyakinan dan metode para Assassin menjadikan mereka buah bibir dalam hal fanatisme dan terorisme di Suriah dan Persia pada abad ke-11 dan 12 dan menjadi subyek mitos dan legenda yang tumbuh dengan subur,” tulis Philippus Laurentinus, seorang Grand Master Elder Brethren Rose and Cross, dalam Baphomet Veneration among the Crusaders.

Sementara sebagian pemimpin merasa khawatir dengan ancaman pembunuhan dari kelompok Assassin, sebagian lainnya justru menjalin hubungan secara diam-diam dan memanfaatkan jasa dan keterampilan para Assassin yang unik.

Kelompok Assassin sendiri belakangan bersedia melakukan aksi pembunuhan yang diminta oleh pihak lain dengan menerima bayaran tertentu. Karakteristik inilah yang menemukan jalannya ke Eropa menjadi sebuah kosa kata yang khas untuk menggambarkan perilaku yang sama. Assassin dalam bahasa Inggris yang digunakan sekarang ini kurang lebih bermakna “seseorang yang membunuh orang lainnya, biasanya orang penting atau terkenal, untuk alasan politik atau uang.”

Kata Assassin sendiri sebenarnya tidak begitu populer di tengah masyarakat Muslim Timur Tengah ketika itu. Mereka biasanya menyebut kelompok ini dan kalangan Syi’ah Ismailiyah pada umumnya dengan sebutan Batiniyah [10]. Hal ini disebabkan, sebagaimana dijelaskan oleh Ali M. Sallabi dalam buku Salah ad-Deen al-Ayubi, mereka meyakini bahwa untuk setiap yang tampak (zahir) terdapat manifestasi yang tersembunyi (batin) dan bagi setiap wahyu ada interpretasinya (yang bersifat batin atau esoteris). Selain itu, mereka juga cenderung menyembunyikan dakwah dan keyakinan mereka saat berada di tengah kaum Muslimin.

Freya Stark seorang wartawati Inggris berdarah campuran Perancis-Italia, ketika menjabat sebagai Staf Redaksi Baghdad Times di Baghdad – Irak, banyak melakukan perjalanan jurnalistiknya. Perempuan yang menguasai bahasa Arab dan Parsi ini atas izin Shah Iran di tahun 1930-1931 mengunjungi sisa-sisa Benteng Alamut di Persia. Stark merupakan perempuan asing pertama yang menjejakkan kakinya di wilayah bekas pusat kekuasaan kelompok Assassin ini.

Freya Stark membuat peta baru yang terperinci atas wilayah tersebut dan catatan perjalanannya menjadi sebuah buku yang sangat menarik berjudul “The Valley of the Assassins”. Dalam bukunya, Freya Stark menulis tentang latar belakang dan perkembangan kelompok Assassin. Freya Stark berpedoman kepada literatur-literatur tertua dalam Dunia Syi’ah.

“Assassin itu sebuah sekte Parsi. Cabang dari aliran Syi’ah Ismailiyah, yang mengkultuskan Ali bin Abi Thalib, menantu Nabi Muhammad, beserta Imam-Imam turunan dari garis Ali, ” demikian tulis Freya Stark (hal. 159).

Tulisan Freya Stark yang dikutip oleh Joesoef Sou’yb dalam bukunya ‘Sejarah Daulat Abasiah’ Jilid III (terbitan Bulan Bintang, 1978) menyatakan, “Kelompok Assassin dipimpin oleh sebuah keluarga dari Persia yang kaya raya namun gila perang. Mereka itu menyerahkan hidupnya untuk merongrong dan menghancurkan secara berangsur-angsur terhadap segala jenis keimanan dalam Islam dengan suatu sistem pentahbisan (inisiasi) secara halus dan pelan-pelan, melalui beberapa tahap (marhalah), menusukkan kesangsian-kesangsian terhadap agama Islam, hingga kemudian si anggota menjadi seseorang yang mendewa-dewakan pemikiran bebas dan bersikap bebas pula (liberal).” (hal. 61)

Sekedar tambahan buat pembaca blog ini bahwa Syi’ah Ismailiyah memisahkan diri dari aliran-aliran Syi’ah lainnya sepeninggal Imam ke-7 bernama Jafar al-Shadiq. Walau mengaku sebagai Syi’ah dan pengikut Ali, namun berlainan dengan aliran Syi’ah lainnya, maka para Assassin tidak mewajibkan shalat, puasa, zakat, dan sebagainya. Pandangan ‘keagamaan’ para Assassin juga unik karena lebih condong kepada Komune (pada abad ke-20 dikenal sebagai paham Komunisme) yakni penyamarataan sosial. Bahkan di dalam beberapa ritual religinya, para Assassin juga melakukan ritual-ritual yang hampir sama ditemukan pada pengikut Paganisme – Kabbalah. Seperti halnya ritual di dalam Taman Alamut yang nyaris serupa dengan ritual pesta seks Caligula atau Nero di zaman Romawi.

Wallahu a’lam.

Catatan kaki :

[1] Biografi Nizham al-Mulk 👉 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Nizham_al-Mulk

[2] Asy’ariyah adalah satu kelompok ahlul kalam, yakni mereka yang berbicara tentang Allah l dan agama-Nya tidak berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka mengutamakan ra’yu (akal) mereka dalam membahas perkara agama . Silahkan baca 👉 https://shirotholmustaqim.wordpress.com/2014/02/26/kesesatan-dan-penyimpangan-asyariAl-Ghazali

[3] Biografi Al-Ghazali 👉 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Al-Ghazali

[4] Silahkan lihat 👉 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Asy%27ariyah atau baca catatan kaki nomor [2]

[5] Lihat 👉 https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nahavand

[6] Byzantium (bahasa Yunani : Βυζάντιον) adalah sebuah kota Yunani kuno, yang menurut legenda, didirikan oleh para warga koloni Yunani dari Megara pada tahun 667 SM dan dinamai menurut nama Raja mereka Byzas atau Byzantas (Bahasa Yunani: Βύζας atau Βύζαντας). Nama “Byzantium” merupakan Latinisasi dari nama asli kota tersebut Byzantion. Kota ini kelak menjadi pusat Kekaisaran Byzantium, (Kekaisaran Romawi penutur Bahasa Yunani menjelang dan pada Abad Pertengahan dengan nama Konstantinopel). Setelah jatuhnya Konstantinopel ke tangan Kerajaan Ottoman, kota ini selanjutnya dikenal sebagai Istanbul bagi Bangsa Turki Ottoman, namun nama tersebut belum menjadi nama resmi kota ini sampai tahun 1930. Silahkan baca 👉 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Byzantium

[7] Frank adalah salah satu suku Jermanik Kuno paling berpengaruh dalam sejarah Eropa. Mereka mendiami wilayah ‘Galia’ antara Perancis dan sekitarnya serta menjalin hubungan yang intens dengan orang-orang Romawi (Italia) yang lebih berperadaban. Mereka memiliki peradaban yang lebih stabil dibandingkan dengan suku-suku Jermanik Kuno yang lain. Anak keturunan suku Frank tetap bertahan hingga saat ini dan menjadi mayoritas orang barat di negara-negara sekitar ‘Galia’ yang saat ini dikenal berdiam di 3 negara yakni Perancis, Belgia, dan Jerman. Silahkan baca 👉 https://id.m.wikibooks.org/wiki/Jermanik_Kuno/Sejarah

[8] Kekhalifahan Abbasiyah (Arab: الخلافة العباسية, al-khilāfah al-‘abbāsīyyah) atau Bani Abbasiyah (Arab: العباسيون, al-‘abbāsīyyūn) adalah kekhalifahan kedua Islam yang berkuasa di Baghdad (sekarang ibu kota Irak). Silahkan baca 👉 https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kekhalifahan_Abbasiyah

[9] Biografi raja Konrad 1 dari Jerusalem baca disini 👉 https://ms.m.wikipedia.org/wiki/Conrad_dari_Montferrat

rujukan untuk raja-raja dari Jerusalem baca disini 👉 https://ms.m.wikipedia.org/wiki/Raja_Jerusalem

[10] Silahkan baca korelasi Batiniyah antara Syi’ah dan Islam Sunni (Sufi) 👉 http://almanhaj.or.id/content/3338/slash/0/syiah-dan-golongan-batiniyah-pencetus-budaya-pengagungan-kubur/

Sumber Tulisan :

Sumber 1

Sumber 2

Sumber 3

Posted from WordPress for Android

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s