Posted in Akhlak, Nasehat

Menghindari Pujian dan Popularitas

image

Bismillah

Di antara kebiasaan orang-orang shalih adalah mereka berusaha untuk lari dari pujian manusia dan pengagungan mereka, serta membenci popularitas di kalangan manusia. Ini menunjukan keikhlasan mereka kepada Allah, dimana mereka mencukupkan diri dengan pengetahuan Allah sajalah tentang keadaan mereka dan hanya berharap pahala dari Allah terhadap amalan mereka.

Anda lihat bahwa orang-orang seperti mereka tidak butuh pujian serta tidak butuh popularitas di antara manusia. Mereka tidak mendambakan pujian dan popularitas itu, bahkan mereka membencinya. Mereka berharap menjadi orang yang tidak diperhitungkan di antara manusia, serta tiada yang memperhatikan amalan mereka selain Allah. Namun Allah tidak berkehendak demikian, bahkan Allah berkehendak agar mereka terkenal. Allah meninggikan kedudukan mereka, mereka banyak disebut di kalangan manusia dan Allah meletakkan di hati para hamba-Nya kecintaan terhadap mereka.

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertaqwa yang kaya lagi tidak menampakan dirinya.” (Hadits Riwayat Muslim no.2965).

Kebiasaan Salafush Shalih :

Kisah Uwais Al-Qarni, bisa dilihat kisahnya dalam Shahih Muslim (no. 2542):

Apabila kafilah dari Yaman datang, ‘Umar bin Khaththab bertanya kepada mereka: “Adakah di antara kalian Uwais bin ‘Amir?” Sehingga suatu saat ‘Umar mendatangi Uwais dan minta agar Uwais memintakan ampun untuknya, karena Uwais adalah seorang tabi’in yang sangat berbakti kepada ibunya, dan Rasulullah Dhallallahu ‘alaihi wa Sallam mengabarkan bahwa jika Uwais berdo’a, do’anya pasti dikabulkan, maka Uwais pun melakukan apa yang diminta ‘Umar.
Kemudian Umar bertanya kepada Uwais “Anda mau pergi kemana?”
Uwais menjawab “Kuufah”,
Umar bertanya “Perlukah saya tulis untukmu sebuah memo kepada pegawai saya di Kufah (agar dia memenuhi kebutuhanmu)?”
Uwais menjawab “Aku lebih senang menjadi manusia yang tidak diperhitungkan”.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata “Aku ingin jika manusia mempelajari ilmu ini, mereka tidak menisbatkan sedikitpun ilmu ini kepadaku” (Hilyatul Aulia, 9/118).

Sufyan Ats-Tsauri berpesan kepada saudaranya “Waspadalah, janganlah engkau mencintai kedudukan, karena zuhud pada kedudukan itu lebih sulit dari pada zuhud pada dunia”. (Hilyatul Aulia, 6/387).

Ibrahim bin Adham berkata “Tidaklah tulus kepada Allah, orang yang mencintai ketenaran”. (Hilyatul Aulia, 8/19).

Pelajaran yang bisa diambil:

Pesan di atas menunjukan keutamaan “menghindari pujian“, serta tercelanya “cinta popularitas.”
Ketenaran yang tercela adalah “minta untuk terkenal”. Jika ketenaran itu datang dari sisi Allah tanpa diminta, maka tidak tercela, hanya saja adanya ketenaran itu merupakan ujian bagi yang lemah imannya. (lihat Mukhtasar Minhaj Al Qaasidin, Hal.210).

Wallahu a’lam.

Demikian, semoga bermanfa’at.

(sumber)

Posted from WordPress for Android

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s