Posted in Asia, Bangsa, Lokasi, Negara, Sejarah, Wilayah

Mengenal Kaum Nomaden : Xiongnu

Bismillah

Menyebut kekaisaran Hun, Mongol, dan Turki memang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Meski muncul di tahun dan abad yang berbeda-beda, ketiga suku itu hingga kini tetap dianggap satu darah dan serumpun. Sebelum membahas lebih jauh tentang Hun, Mongol, dan Turki, pada artikel ini saya akan membahas terlebih dahulu nenek moyang mereka yakni Xiongnu yang hidup panjang di daerah Asia Tengah.

Kebedaraan kaum nomaden[1] ini teridentifikasi hidup sekitar tahun 300 Sebelum Masehi hingga 450 Masehi, yakni sekelompok manusia yang hidup secara nomaden yang dikenal sebagai Xiongnu.

Awal diketahuinya Xiongnu melalui penguasa mereka yang bernama Touman. Touman yang berkuasa antara tahun 220 hingga 209 Sebelum Masehi. Selama menjadi pemimpin bagi kaum Xiongnu, Touman menyatukan suku-suku nomaden lainnya yang hidup di padang rumput Mongolia yang ia gunakan untuk menyerang satu persatu wilayah China.

Dengan memiliki pasukan terbaik dari padang rumput di Mongolia, ekonomi Xiongnu menjadi makmur, sebagian fakta mencatat bahwa ekonomi kaum nomaden Xiongnu ini sangat bergantung pada kondisi dataran yang berumput.

Identitas etnis Xiongnu yang suka berperang jugalah mengakibatkan aliansi suku-suku mereka menjadi begitu padu, sehingga Xiongnu dicap sebagai ancaman terbesar bagi China melalui kekuasaan Dinasti Han di sebelah selatan tenggara.

Kenyataannya, dengan berbagai peperangan yang dilakukan oleh Xiongnu ke wilayah China bagian Utara, telah membuat Dinasti Han di China mendirikan benteng penghalang antara mereka dengan Xiongnu, yang kelak di masa sekarang benteng penghalang tersebut terkenal dengan sebutan Tembok Besar China.

Xiongnu membentuk aliansi suku-suku mereka di daerah yang sekarang dikenal sebagai Mongolia. Banyak yang percaya bahwa Xiongnu berasal dari suku di Siberia yang memiliki ras dari orang-orang Mongol, meskipun sekarang hal itu masih diperdebatkan oleh beberapa ahli sejarah, apakah mereka berasal dari etnis Turki, Mongolia[2], Yenisei[3], Tocharia[4], Iran, Uralic[5], atau campuran dari ras tersebut? Tapi faktanya dalam beberapa kasus, Xiongnu merupakan kaum yang gemar perang yang sangat diperhitungkan di masa itu.

Ada yang mengatakan nama “Xiongnu” memiliki etimologi yang sama seperti “Hun” tapi hal ini hanya berupa kontroversi semata. Tutur kata mereka menggunakan dialek Altai, budaya mereka yang suka berkelana menyusuri padang rumput dan air serta sebagian besar nama dan marga-marga mereka semua dapat ditemui dalam literatur-literatur lama yang tersimpan di China.

wilayah teritorial kerajaan Xiongnu (Wikipedia)

Xiongnu diyakini membangun kejayaan terbesar mereka di bawah kepemimpinan tertinggi mereka yakni “Modu Chanyu” sekitar tahun 209 Sebelum Masehi.

Modu (Maodun dalam bahasa China modern), merupakan anak dari Touman, ia merupakan pewaris kekuasaan ayahnya kelak. Sebelum menggantikan ayahnya Modu mengasingkan diri ke wilayah Yuezhi, hidup bersama kaum nomaden Tokharian di Gansu.

Touman yang gerah dengan perbuatan anaknya tetsebut akhirnya melakukan invasi perang ke wilayah Yuezhi untuk memulangkan anaknya itu, tapi Modu berhasil melarikan diri. Touman akhirnya mengizinkan anaknya Modu untuk kembali dengan iming-iming pemberian sebuah unit pasukan berkuda dan pemanah yang terdiri dari 10.000 cavaleri yang kesemuanya akan berada bawah komando Modu.

Modu kembali dan melatih pasukan tersebut dengan sangat ketat hingga sewaktu sedang berburu bersama pasukannya, Modu “secara tidak sengaja” memanah ayahnya hingga tewas, kejadian ini terjadi di tahun 209 Sebelum Masehi yakni di akhir masa kekuasaan Touman.

Setelah dinobatkan sebagai penguasa Xiongnu yang baru, Modu mendapatkan gelar “Chanyu” yang setara dengan penyebutan “Putra Langit” dalam bahasa China kuno.

Xiongnu dibawah kekuasaan Modu Chanyu menggunakan politik Unifikasi[6] yang memungkinkan mereka untuk membangun pasukan perang yang tangguh nan gesit dan menggunakan koordinasi strategi perang yang lebih baik dengan cara berkuda dan memanah secara gesit.

Xiongnu mengadopsi banyak teknik cara bercocok tanam di China, membangun rumah-rumah berarsitektur khas China, serta mengenakan pakaian sutra seperti halnya budaya di China. Kaum Xiongnu merupakan penyembah matahari, bulan, langit, bumi, serta nenek moyang mereka yang telah meninggal. Mereka juga membentuk sejumlah suku-suku kecil sebagai aliansi yakni Chubei, Huyan, Lan, Luandi, Qiulin, dan Suibu.

Xiongnu memiliki sistem hirarki yakni dengan pemimpin bernama Modu Chanyu sebagai pucuk pimpinan tertinggi yang membentuk sistem politik dualistik dengan cabang ke barat dan timur.

Di bawah komando seorang “Modu Chanyu” ada “Raja-raja pengambil kebijakan di wilayah timur dan barat”. Di bawah raja-raja pengambil kebijakan tersebut adalah Guli, kemudian komandan militer, seorang gubernur, dunghu (tung-hu), dan Gudu (ku-tu). Di bawah mereka ada lagi berupa komandan dari tiap-tiap kelompok pasukan yang berjumlah 1000 orang, 100 orang, atau bahkan hanya 10 orang. Ketika seorang “Modu Chanyu” meninggal, kekuasaannya akan langsung diberikan kepada anaknya atau jika tidak mempunyai keturunan maka kekuasaan tersebut akan jatuh ke saudara kandung laki-laki.

perang antara Xiongnu dan Dinasti Han (Hennan Museum)

Meskipun telah banyak pertempuran yang terjadi antara Xiongnu dan Dinasti Han, maka di tahun 129 Sebelum Masehi pecah perang besar-besaran antara dua musuh bebuyutan ini. Dinasti Han ingin membentuk aliansi dengan orang-orang Yuezhi untuk melawan kekuatan besar Xiongnu yang berupaya mengambil wilayah mereka sedikit demi sedikit, tetapi upaya ini tidak berhasil.

Empat puluh ribu pasukan berkavaleri dari China menyerang Xiongnu di daerah perbatasan daerah kedua belah pihak. Perang ini merupakan perang yang sulit bagi Dinasti Han karena kesulitan yang mereka hadapi dalam mengangkut cadangan makanan dan persediaan persenjataan untuk jarak yang jauh dan keterbatasan yang sangat minim akan bahan bantuan yang mereka butuhkan untuk bertahan di wilayah Xiongnu yang sangat keras. Walaupun pada akhirnya di kemudian hari, China dapat mengambil alih secara penuh kekuasaan Xiongnu dikarenakan ketidakstabilan dan lemahnya kekaisaran Xiongnu itu sendiri akibat perang internal.

Antara tahun 60-53 Sebelum Masehi, kerajaan Xiongnu harus menghadapi pergolakan antara mereka sesama sendiri. Setelah kematian penguasa “Modu Chanyu” yang ke-12, seorang cucu dari sepupunya yang dikenal dengan nama Woyanqudi mengambil alih kekuasaan. Oleh sebagian lainnya, hal ini dipandang sebagai sebuah perampasan kekuasaan dan menyebabkan kekacauan dalam internal Xiongnu.

Hanya sedikit orang yang mau mendukung Woyanqudi hingga akhirnya Woyanqudi melarikan diri dan setelah itu bunuh diri. Setelah kejadian buruk itu, beberapa keturunan dari ahli waris tahta telah disiapkan untuk mengambil alih kekuasaan Xiongnu, tapi ada ketidaksepakatan diantara mereka mengenai siapa penerus yang pantas mengambil alih sebagai “Modu Chanyu” ke-14. Mereka yang dulunya mendukung Woyanqudi, memutuskan agar saudara kandung Woyanqudi yang bernama Tuqi yang pantas menjadi “Modu Chanyu” selanjutnya yakni di tahun 58 Sebelum Masehi.

Anehnya pada tahun berikutnya, malah ada tiga orang yang menyatakan diri siap untuk menjadi penerus “Modu Chanyu”. Hal inilah penyebab pertama dari serangkaian ketidakstabilan dan lemahnya kekaisaran Xiongnu itu sendiri.

Hingga akhirnya Tuqi dikalahkan oleh Huhanye dalam perebutan kekuasaan dan kemudian muncul ke permukaan dua orang penuntut yang mengaku pantas sebagai penerus tahta “Modu Chanyu” yakni kakak sulung dari Huhanye sendiri bernama Zhizhi dan seorang bernama Runzhen. Zhizhi berhasil membunuh Runzhen di tahun 54 Sebelum Masehi dan hanya dua bersaudara Zhizhi dan Huhanye yang tersisa. Zhizhi berhasil merebut kekuasaan dan kakaknya Huhanye diserahkan ke China. Setelah kejadian itu, kekuasaan bergeser bolak-balik antara Xiongnu dan Dinasti Han selama bertahun-tahun, dengan banyak pertumpahan darah.


Setelah pertempuran Ikh Bayan di tahun 89 Masehi, wilayah Xiongnu Utara diusir dari Mongolia dan wilayah Xiongnu Selatan menjadi bagian dari Dinasti Han di China.

Beberapa ahli sejarah percaya bahwa orang-orang yang ada wilayah Xiongnu Utara yang terusir, mengungsi ke wilayah barat dan kelak berada di bawah kepemimpinan Attila dengan memakai nama baru yakni “Hun”.

Budaya unik dari Kekaisaran Xiongnu yang sangat kuat selama beberapa waktu lamanya. Benteng yang awalnya dibangun untuk menjaga Xiongnu melakukan invasi perang akhirnya berubah menjadi Tembok Besar China. Hal ini menjadi bukti seberapa banyak mereka dan bagaimana kekuatan Xiongnu itu sendiri ~ kelompok nomaden kuno yang memainkan peran penting dalam sejarah Mongolia dan China.

Wallahu a’lam.

catatan kaki :

[1] Nomaden adalah masyarakat yang memilih hidup berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain di padang rumput/pasir atau daerah bermusim dingin/panas, daripada menetap di suatu tempat (Wikipedia).

[2] Lihat referensi tulisan saya tentang bangsa Mongolia di blog ini pada beberapa waktu lalu : artikel pertama, artikel kedua, dan artikel ketiga.

[3] Lihat di Wikipedia.

[4] Lihat di Wikipedia.

[5] Lihat di Wikipedia.

[6] Unifikasi adalah suatu langkah penyeragaman hukum atau penyatuan suatu hukum untuk diberlakukan bagi seluruh masyarakat disuatu wilayah negara tertentu sebagai hukum nasional di negara tersebut. oleh Kaisar Napoleon di Perancis dalam tahun 1604.​

Author:

di blog ini tempatku berbagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s